HOME  ⁄  Nasional

Hari Buku Sedunia Jadi Momentum Penguatan Literasi, Pemerintah Dorong Budaya Membaca di Era Digital

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Hari Buku Sedunia Jadi Momentum Penguatan Literasi, Pemerintah Dorong Budaya Membaca di Era Digital
Foto: (Sumber: Pengunjung mencari buku saat bazar buku rangkaian Festival Literasi di Gedung Youth Center Padang, Sumatera Barat, Jumat (24//4/2026). ANTARA FOTO/Fitra Yogi/sgd.)

Pantau - Peringatan Hari Buku Sedunia setiap 23 April menjadi momentum global untuk menegaskan pentingnya budaya membaca dan literasi dalam memperluas wawasan serta membangun kualitas sumber daya manusia.

Membaca buku diibaratkan sebagai upaya menjaga pengetahuan tetap hidup sekaligus membuka cakrawala berpikir yang lebih luas.

Buku disebut sebagai jendela dunia yang mampu memberikan pemahaman mendalam di tengah derasnya arus informasi.

Di Indonesia, momentum ini dimanfaatkan untuk memperkuat literasi melalui bahasa dan sastra sebagai bagian dari pembangunan nasional.

Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin menegaskan bahwa literasi merupakan bagian penting dalam pembangunan berkelanjutan.

Terdapat tiga aspek strategis dalam penguatan literasi yaitu pembentukan karakter, pemerataan akses bacaan, dan peningkatan daya saing sumber daya manusia.

Pemerintah melalui Badan Bahasa berkomitmen mengembangkan ekosistem perbukuan secara menyeluruh.

Upaya dilakukan melalui penyediaan buku cetak dan digital serta penerjemahan buku untuk memperkaya sumber bacaan.

Distribusi buku diperluas hingga daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T guna memastikan pemerataan akses literasi.

Buku gratis juga disediakan di ruang publik seperti transportasi massal untuk meningkatkan minat baca masyarakat.

Komunitas literasi turut mendapat dukungan untuk memperkuat budaya membaca di tingkat akar rumput.

Literasi digital dinilai berperan sebagai pelengkap, namun tidak dapat menggantikan dasar literasi dari buku.

Tanpa fondasi membaca buku, pemahaman mendalam dinilai sulit tercapai di tengah arus informasi digital yang cepat.

Pengamat komunikasi Edi Santoso menilai pendekatan literasi perlu disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Ia menyatakan, “Generasi muda yang dekat dengan media sosial perlu diarahkan agar tetap memiliki kedalaman pemahaman melalui buku,” ungkapnya.

Membaca perlu dikemas sebagai aktivitas menyenangkan dan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat.

Literasi dipandang sebagai sarana penting untuk memperluas wawasan dan membangun masa depan bangsa.

Penutupnya, membaca buku perlu dijadikan kebiasaan agar masyarakat terus berkembang dan menemukan inspirasi baru.

Penulis :
Gerry Eka