HOME  ⁄  Nasional

Psikolog Ungkap Kiat Efektif Agar Anak Mau Bercerita Usai dari Daycare

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Psikolog Ungkap Kiat Efektif Agar Anak Mau Bercerita Usai dari Daycare
Foto: (Sumber : Pendamping bermain bersama anak balita di Rumah Pelita, Manyaran, Semarang, Jawa Tengah, Senin (13/4/2026). Rumah Pelita merupakan inisiasi Pemerintah Kota Semarang sebagai upaya percepatan penurunan stunting melalui layanan penitipan anak yang bertujuan meningkatkan pola asuh, asupan gizi, serta tumbuh kembang anak agar mencapai status gizi optimal, dan saat ini layanan rumah tersebut telah tersedia di empat lokasi di wilayah Semarang. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/wsj..)

Pantau - Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) membagikan kiat agar anak mau bercerita mengenai aktivitasnya di daycare dengan pendekatan komunikasi yang tepat dan suasana yang nyaman.

Pendekatan Komunikasi yang Tepat

Bendahara HIMPSI Wilayah Aceh Devi Yanti mengatakan orang tua perlu menggunakan pertanyaan terbuka agar anak terdorong untuk bercerita.

"Untuk anak yang sudah bisa berbicara, ada beberapa pendekatan yang efektif," katanya.

Ia menyarankan agar orang tua menghindari pertanyaan tertutup yang hanya menghasilkan jawaban ya atau tidak.

"Daripada menanyakan apakah hari ini menyenangkan, coba tanyakan menjadi tadi main apa, dengan siapa atau ada kejadian lucu tidak hari ini?" ujarnya.

Menurutnya, momen seperti makan malam, mandi, atau sebelum tidur dapat dimanfaatkan sebagai waktu ideal untuk membangun komunikasi dengan anak.

Devi juga mengingatkan orang tua agar tidak menunjukkan reaksi berlebihan saat anak bercerita, terutama jika cerita tersebut mengkhawatirkan.

"Jika anak bercerita sesuatu yang mengkhawatirkan, usahakan untuk tidak panik di depan anak. Reaksi yang berlebihan bisa membuat anak merasa bersalah sudah bercerita dan memilih diam di kemudian hari," katanya.

Peran Daycare dan Pengasuhan Berkualitas

Selain komunikasi, orang tua juga dapat menggunakan media bermain seperti boneka atau permainan peran untuk membantu anak mengekspresikan perasaannya.

Devi menegaskan bahwa menitipkan anak di daycare bukan hal yang tabu selama kualitas pengasuhan tetap terjaga.

"Namun, tidak dipungkiri terdapat stigma bahwa ibu yang baik tidak menitipkan anaknya tetapi itu adalah konstruksi sosial yang tidak adil. Yang terpenting bukan di mana anak diasuh, tetapi bagaimana kualitas pengasuhan yang diterima anak," ucapnya.

Ia menambahkan bahwa daycare berkualitas dapat memberikan manfaat seperti stimulasi sosial dan kegiatan terstruktur bagi tumbuh kembang anak.

Kasus kekerasan di daycare, menurutnya, menjadi pengingat penting bagi pemerintah untuk memperketat pengawasan dan perizinan lembaga pengasuhan anak di Indonesia.

Penulis :
Ahmad Yusuf