
Pantau - Indonesia menegaskan komitmennya menjadikan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sebagai motor penggerak transformasi digital inklusif di kawasan ASEAN dalam forum parlemen muda di Jakarta, Selasa (28/4).
Anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI Surya Utama menyampaikan bahwa AI menjadi peluang strategis untuk mempercepat transformasi digital sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif di kawasan dengan populasi lebih dari 680 juta jiwa.
“Indonesia memandang kemajuan kecerdasan buatan sebagai peluang strategis untuk mempercepat transformasi digital dan mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif di seluruh ASEAN,” ujarnya.
Tantangan Misinformasi dan Kesenjangan Digital
Surya mengungkapkan meski potensi ekonomi digital ASEAN diproyeksikan melampaui 1 triliun dolar AS pada 2030, kawasan ini masih menghadapi tantangan serius seperti misinformasi, ancaman siber, dan kesenjangan akses digital.
Ia menambahkan di Indonesia sendiri jumlah pengguna internet telah melampaui 210 juta orang, namun peningkatan tersebut juga diiringi risiko penyalahgunaan teknologi AI termasuk deepfake.
Menurutnya, fenomena tersebut bersifat lintas negara sehingga membutuhkan respons bersama di tingkat regional.
Upaya Penguatan Talenta dan Regulasi
Sebagai langkah konkret, pemerintah Indonesia telah menjalankan Program Literasi Digital Nasional yang sejak 2021 menjangkau lebih dari 20 juta masyarakat dengan fokus pada keterampilan, etika, keamanan, dan budaya digital.
Selain itu, pemerintah juga telah memberlakukan Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi untuk memperkuat kepercayaan publik dalam ekosistem digital.
“Ini menjadi landasan penting untuk pengembangan AI yang bertanggung jawab,” tegasnya.
Indonesia juga menargetkan pengembangan sekitar 9 juta talenta digital hingga 2030 guna mendukung kebutuhan ekonomi berbasis teknologi.
Dorong Sinergi dan Kebijakan Regional
Surya menekankan pentingnya kerja sama ASEAN dalam pengembangan talenta digital, pertukaran praktik terbaik, serta penyusunan kebijakan AI yang interoperabel tanpa mengabaikan kedaulatan digital masing-masing negara.
“Melalui pendekatan yang inklusif, berpusat pada manusia, dan kolaboratif, AI dapat menjadi alat untuk memberdayakan pemuda ASEAN, bukan justru memperlebar ketimpangan,” pungkasnya.
Langkah ini juga membuka ruang diskusi regional untuk memastikan inklusivitas akses digital bagi masyarakat pedesaan dan kelompok rentan di tengah perbedaan kesiapan digital antarnegara ASEAN.
- Penulis :
- Aditya Yohan







