
Pantau - Jumlah pasien yang datang ke klinik tidur di Rumah Sakit Rakyat Wilayah Huimin, Binzhou, Provinsi Shandong, China meningkat tiga kali lipat dari sekitar 200 menjadi 600 kunjungan per tahun.
Direktur klinik Yin Jianfeng menyampaikan, "Ini bukan karena tiba-tiba ada lebih banyak orang yang tidak bisa tidur."
Ia menjelaskan peningkatan tersebut terjadi karena semakin banyak masyarakat yang mau mencari bantuan.
Fenomena ini mencerminkan meningkatnya kesadaran terhadap pentingnya pola tidur sehat.
Survei tahun 2025 menunjukkan rata-rata orang dewasa di China tidur sekitar 7,06 hingga 7,18 jam per hari.
Sebanyak 48,5 persen masyarakat melaporkan mengalami masalah tidur.
Rata-rata waktu tidur dimulai pukul 23.15 dan bangun pukul 06.38.
Di kalangan anak muda, kebiasaan tidur setelah tengah malam menjadi hal umum.
Kelompok berisiko insomnia meliputi pekerja dengan tekanan tinggi, penderita penyakit kronis, dan individu dengan masalah kesehatan mental.
Profesor Universitas Fudan Huang Zhili mengatakan, "Peningkatan insomnia berkaitan erat dengan pesatnya perkembangan industri dan digital China, yang telah menjadikan persaingan semakin ketat, beban kerja lebih berat, serta meningkatnya ketergantungan terhadap perangkat elektronik."
Penggunaan perangkat elektronik berlebihan dapat mengganggu tidur akibat stimulasi cahaya dan suara.
Paparan informasi yang terus-menerus juga dapat meningkatkan kecemasan.
Di Rumah Sakit Huashan Shanghai, layanan klinik tidur kini diperluas hingga malam hari akibat lonjakan pasien.
Profesor Yu Huan menyampaikan, "Kunjungan pasien ke klinik tidur meningkat pesat."
Pemerintah China mewajibkan setiap kota setingkat prefektur memiliki layanan klinik tidur hingga akhir 2025.
Hingga Desember 2025, kunjungan ke klinik tidur meningkat 39 persen dibanding tahun sebelumnya.
Di Provinsi Shandong, lebih dari 300 institusi medis telah membuka layanan klinik tidur.
Direktur pusat pengobatan tidur Li Xirong mengatakan, "Seiring semakin banyaknya klinik tidur, stereotipe seputar rumah sakit jiwa secara bertahap mulai runtuh. Banyak pasien tidak lagi menderita gangguan tidur dalam diam. Mereka mulai mencari bantuan."
Perawatan gangguan tidur kini tidak hanya mengandalkan obat-obatan.
"Menggunakan pil tidur agar bisa tertidur sama seperti mendapatkan tidur palsu," ujarnya.
Ketergantungan obat jangka panjang dinilai tidak menyelesaikan akar masalah.
Terapi non-obat seperti terapi perilaku kognitif, perubahan gaya hidup, serta penggunaan alat medis mulai banyak digunakan.
Aktivitas seperti olahraga, meditasi, dan praktik kesadaran dianjurkan untuk meningkatkan kualitas tidur.
Pengobatan tradisional China seperti akupunktur, herbal, dan pijat juga dimanfaatkan.
Di Rumah Sakit Guang'anmen, klinik tidur menangani hampir 100 ribu kunjungan pasien per tahun.
Sekitar 60 hingga 70 persen pasien merupakan penderita insomnia.
Dokter Hong Lan mengatakan, "Keunggulan TCM terletak pada pendekatan individualnya."
"Itu (TCM) tidak hanya berfokus membantu pasien untuk bisa tidur, tetapi juga menekankan keseimbangan tubuh dan pikiran secara keseluruhan," ujarnya.
- Penulis :
- Gerry Eka
- Editor :
- Gerry Eka







