
Pantau - Carlos Alcaraz resmi menjadi petenis termuda dalam sejarah yang meraih “Career Grand Slam” setelah menjuarai Australian Open 2026 di Rod Laver Arena, Melbourne.
Kemenangan ini merupakan gelar Grand Slam ketujuh Alcaraz, diraihnya usai mengalahkan Novak Djokovic di partai final.
Dengan pencapaian ini, Alcaraz menjadi petenis putra keenam di era Open yang sukses mengoleksi empat gelar Grand Slam berbeda: Australia, Prancis, Wimbledon, dan AS Terbuka.
Ia melakukannya di usia 22 tahun, menjadikannya yang termuda dalam sejarah yang mencapai prestasi tersebut.
Lampaui Rekor Bjorn Borg, Samai Jejak Legenda
Rekor sebelumnya dipegang oleh Bjorn Borg, yang meraih Grand Slam ketujuhnya saat hampir berusia 23 tahun pada Roland Garros 1979.
Alcaraz juga menjadi petenis keempat di abad ke-21 yang menyelesaikan Career Grand Slam, setelah Roger Federer (2009), Rafael Nadal (2010), dan Novak Djokovic (2016).
Secara keseluruhan, hanya sembilan petenis putra dalam sejarah tenis yang mencapai Career Grand Slam, termasuk legenda seperti Fred Perry, Don Budge, dan Rod Laver.
Rod Laver bahkan mencatatkan dua kali Career Grand Slam, masing-masing pada 1962 (amatir) dan 1969 (profesional).
Konsistensi Alcaraz di Final Grand Slam
Catatan Alcaraz di final Grand Slam kini mencapai tujuh kemenangan dan satu kekalahan, menunjukkan konsistensinya di level tertinggi.
Sejak menjuarai US Open 2022, Alcaraz telah menambah gelar di Wimbledon (2023, 2024), Roland Garros (2024, 2025), dan akhirnya Australian Open (2026).
Ia juga menjadi petenis Spanyol kedua yang mampu menjuarai Australian Open setelah idolanya, Rafael Nadal, yang meraihnya pada 2009 dan 2022.
Kemenangan Alcaraz di US Open 2022 sebelumnya juga menjadikannya petenis nomor satu dunia termuda dalam sejarah ATP sejak sistem peringkat diperkenalkan pada 1973.
Tahan Zverev di Semifinal, Tundukkan Djokovic di Final
Perjalanan Alcaraz menuju gelar di Melbourne tak mudah. Ia mencatat pertandingan epik di semifinal saat menaklukkan Alexander Zverev dalam laga maraton selama 5 jam 27 menit.
Final melawan Djokovic menjadi penegasan bahwa Alcaraz bukan hanya masa depan, tetapi juga masa kini tenis dunia.
- Penulis :
- Gerry Eka







