Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Olahraga

Futsal Indonesia Menunggu Sejarah Tanpa Kehilangan Arah: Final Dramatis Jadi Titik Balik

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Futsal Indonesia Menunggu Sejarah Tanpa Kehilangan Arah: Final Dramatis Jadi Titik Balik
Foto: (Sumber: Pemain Timnas futsal Indonesia menyanyikan lagu Indonesia Raya sebelum bertanding melawan Timnas futsal Iran pada pertandingan final AFC Futsal Asian Cup 2026 di Indonesia Arena, Senayan, Jakarta, Sabtu (7/2/2026). ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/agr (ANTARA FOTO/ASPRILLA DWI ADHA).)

Pantau - Timnas Futsal Indonesia harus mengakui keunggulan Iran dalam final AFC Futsal Asian Cup 2026 setelah kalah melalui adu penalti dengan skor 4–5, usai bermain imbang 5–5 di waktu normal dan babak tambahan.

Pertandingan yang digelar di Indonesia Arena, Sabtu malam, 7 Februari 2026, menjadi salah satu laga paling menegangkan dalam sejarah futsal nasional.

Indonesia beberapa kali unggul dalam pertandingan, mulai dari 2–1, 3–1, 4–3, hingga 5–4, namun selalu berhasil disamakan oleh Iran.

Kiper Habiebie sempat menjadi pahlawan dengan menggagalkan penalti Iran di waktu normal, sementara Israr Megantara mencetak hat-trick yang luar biasa.

Antara Realitas dan Kebanggaan: Pelajaran dari Kekalahan

Meskipun gagal menjadi juara, pencapaian sebagai runner-up Asia merupakan hasil terbaik dalam sejarah futsal Indonesia.

Pelatih Hector Souto menyebut tim asuhannya telah bermain berani, cepat, dan percaya diri, terutama di hadapan publik sendiri.

Namun ia juga menekankan pentingnya bersikap realistis terhadap jarak kualitas dengan Iran dan Jepang.

“Kejujuran dalam menilai kekuatan sendiri jauh lebih penting daripada euforia,” tegas Souto.

Ia mengakui bahwa pencapaian ini adalah buah dari kerja keras, tetapi tidak otomatis menjamin hasil serupa dalam waktu dekat tanpa pembenahan.

Artikel ini menyoroti ironi bahwa futsal—yang selama ini berada di bawah bayang-bayang sepak bola lapangan—justru mampu melangkah lebih jauh secara prestasi.

Futsal Indonesia: Dari Underdog Menjadi Cermin

Kekalahan di final tidak dipandang sebagai akhir, melainkan sebagai “luka produktif” yang bisa menjadi bekal menuju kedewasaan dalam bersaing di level tertinggi.

Futsal Indonesia dipotret sebagai tim underdog yang bekerja keras dalam senyap, tanpa banyak sorotan, namun mampu memberikan hasil nyata.

Hector Souto menegaskan perlunya pembenahan serius mulai dari fasilitas akar rumput, liga domestik, hingga investasi jangka panjang jika ingin bersaing secara konsisten.

Pencapaian ini dinilai sebagai cermin bagi seluruh ekosistem sepak bola nasional: bahwa kerja sistemik dan pembinaan yang konsisten dapat menghasilkan prestasi.

Sejarah besar futsal Indonesia memang belum tercipta, namun langkah awalnya sudah terlihat—bukan lewat mimpi, tapi melalui proses menunggu dengan cara yang benar.

Penulis :
Gerry Eka