Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Pertambangan

PT Vale Pastikan Pasokan Nikel untuk Smelter Sorowako Aman Meski Kuota Produksi Dikurangi

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

PT Vale Pastikan Pasokan Nikel untuk Smelter Sorowako Aman Meski Kuota Produksi Dikurangi
Foto: Arsip foto. Pekerja menggunakan alat berat mengangkut biji nikel mentah di area stockpile PT Vale Indonesia Tbk di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Selasa 21/10/2025 (sumber: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI)

Pantau - PT Vale Indonesia Tbk memastikan pasokan nikel untuk smelter di Sorowako, Sulawesi Selatan tetap aman, meskipun Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengurangi kuota produksi bijih nikel secara nasional.

Direktur dan Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Vale, Budiawansyah, menegaskan bahwa produksi nikel matte di Sorowako tidak terdampak kebijakan tersebut.

"Sorowako 100 persen, nikel matte tidak ada yang berkurang, sesuai dengan plan," ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa penyesuaian yang dilakukan pemerintah hanya menyangkut produksi bijih nikel, bukan pada proses hilirisasi yang sudah berjalan penuh.

"Pemerintah itu cuma berusaha mengelola dulu. Hilirisasinya 100 persen, bijihnya yang disesuaikan," ia mengungkapkan.

Penyesuaian Kuota untuk Stabilkan Harga Pasar

Penyesuaian kuota produksi bijih nikel dilakukan untuk menyesuaikan pasokan dengan kebutuhan pasar global dan menjaga stabilitas harga komoditas nikel.

Menurut Budiawansyah, meskipun ada penurunan kuota, pasokan untuk smelter tetap terjamin sehingga tidak mempengaruhi target produksi nikel matte PT Vale.

Ia juga menyebutkan bahwa masih terbuka peluang untuk merevisi kuota produksi dan melakukan pengajuan ulang jika diperlukan di masa mendatang.

Kementerian ESDM sendiri telah menyetujui Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026 dengan sistem persetujuan tahunan.

Persetujuan RKAB ini diberikan pada hari Kamis sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mengatur kembali volume produksi bijih nikel nasional.

Namun, Budiawansyah belum menyampaikan rincian volume kuota produksi yang disetujui dalam RKAB tersebut.

Target Produksi Nasional Dipangkas

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM, Tri Winarno, mengungkapkan bahwa pemerintah akan memangkas target produksi bijih nikel menjadi sekitar 250–260 juta ton pada tahun 2026.

Angka ini turun signifikan dibandingkan target produksi dalam RKAB tahun 2025 yang mencapai 379 juta ton.

Kebijakan pemangkasan produksi ini bertujuan untuk mendongkrak harga nikel yang sempat melemah dalam beberapa waktu terakhir.

Saat ini, harga nikel telah naik dan berada di atas 17 ribu dolar AS per dry metric ton (dmt), meningkat dibandingkan rata-rata harga tahun 2025 yang berkisar di angka 14 ribu dolar AS per dmt.

Penulis :
Leon Weldrick