HOME  ⁄  Politik

Terbelahnya Suara PPP di Pilpres, Ulangi Kisah Serupa di 2014 dan 2019

Oleh Aditya Andreas
SHARE   :

Terbelahnya Suara PPP di Pilpres, Ulangi Kisah Serupa di 2014 dan 2019
Foto: Bendera PPP

Pantau - PPP kembali terbelah pada ajang Pilpres 2024. Sejumlah kader justru membelot dan tak satu arah dengan keputusan DPP yang mengusung pasangan nomor 3 Ganjar Pranowo-Mahfud MD.

Sebagai informasi, Plt Ketua Umum PPP Muhammad Mardiono resmi mendeklarasikan dukungan ke Ganjar pada 26 April lalu. PPP berkoalisi dengan PDIP, Hanura, dan Perindo.

Meski keputusan partai mendukung Ganjar, namun sejumlah kader hingga petinggi PPP ada pula yang mendukung pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) dan pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

Politikus senior PPP Habil Marati menjadi salah satu tokoh partai ka'bah yang mendukung Anies sejak awal tahun ini.

Ketika PPP mengumumkan arah dukungannya kepada Ganjar sebagai capres di April 2023, Habil enggan mengikutinya.

"Saya sangat konsisten dan tetap memperjuangkan Anies jadi presiden," kata Habil.

Habil lantas membentuk relawan Forum Ka'bah Membangun untuk mendukung Anies. Bahkan, ia bersama kelompok relawan Go-Anies dan Amanat Indonesia (ANIES) membentuk Sekretariat Bersama dengan nama KIB alias Kuning, Ijo, Biru.

Terbaru, sekelompok kader PPP yang mengatasnamakan diri 'Pejuang PPP' mendeklarasikan Prabowo-Gibran di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Kamis (28/12/2023) kemarin.

Wakil Sekretaris Majelis Pertimbangan PPP Hizbiyah Rochim dalam pidatonya meminta agar bekerja keras memenangkan Prabowo-Gibran di Pilpres.

"Kita ngajak saudara kita, teman-teman kita tanggal 14 Februari 2024 berbondong-bondong ke TPS coblos nomor 2," kata Hizbiyah.

Acara deklarasi itu diakhiri dengan penyerahan piagam deklarasi yang dilakukan Koordinator Nasional Pejuang PPP Witjaksono kepada Ketua TKN Prabowo-Gibran, Rosan Roeslani.

Mengulang kejadian di 2014 dan 2019

Bukan kali ini saja suara PPP terpecah. Pada Pilpres 2014 lalu PPP awalnya tergabung dalam Koalisi Merah Putih untuk mendukung pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Namun, pasca kasus korupsi yang menjerat Ketua Umum PPP kala itu Suryadharma Ali membuat suara mereka terbelah akibat adanya dualisme kepemimpinan.

PPP di bawah pimpinan Romahurmuziy mengalihkan dukungan kepada pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla. Sedangkan PPP kelompok Djan Faridz tetap mendukung Prabowo-Hatta.

Kejadian ini juga kembali terulang pada Pilpres 2019 lalu. PPP kubu Muktamar Jakarta yang dipimpin oleh Humprey Jemat sempat mendeklarasikan mendukung pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno.

Arah dukungan yang diambil kubu PPP Muktamar Jakarta ini berbeda dengan pilihan PPP yang diketuai Romahurmuziy kala itu mendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin di pilpres 2019.

Penulis :
Aditya Andreas