
Pantau - China dinilai telah menjelma sebagai aktor penting dalam transisi keberlanjutan global dan siap memainkan peran utama pada fase pembangunan berkelanjutan berikutnya.
Penilaian tersebut disampaikan Presiden sekaligus CEO Dewan Bisnis Dunia untuk Pembangunan Berkelanjutan (World Business Council for Sustainable Development/WBCSD), Peter Bakker, dalam wawancara tertulis dengan Xinhua di sela-sela Pertemuan Tahunan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss.
Bakker mengidentifikasi tiga risiko global yang saling terkait, yakni dampak fisik perubahan iklim yang mengganggu produktivitas dan investasi, fragmentasi geopolitik yang menekan perdagangan serta rantai nilai global, dan perubahan teknologi yang sangat cepat, termasuk kecerdasan buatan, yang melampaui kapasitas tata kelola dan adaptasi tenaga kerja.
Ia menekankan bahwa prioritas komunitas ekonomi global saat ini adalah menyelaraskan modal, kebijakan, dan aksi bisnis guna mempercepat transisi rendah karbon, mengintegrasikan strategi yang berpihak pada kelestarian alam, serta mendorong adopsi model bisnis sirkular secara luas.
Peran Strategis China dalam Dekarbonisasi Global
Menurut Bakker, China merupakan ekonomi representatif yang tengah menjalani transformasi berkelanjutan dengan capaian signifikan.
Ia menyoroti peran China sebagai pusat manufaktur utama, ekosistem inovasi yang berkembang pesat, serta pemimpin dalam peningkatan skala teknologi bersih.
“Kemampuan tersebut membentuk jalur dekarbonisasi global,” ungkap Bakker.
Ia menyatakan keyakinannya bahwa China akan memainkan peran penting dalam fase pembangunan berkelanjutan berikutnya, tidak hanya melalui keberhasilan transisi domestik, tetapi juga dengan memungkinkan penerapan global dalam skala besar.
Seruan Penguatan Dialog Global
Mengomentari tema Forum Ekonomi Dunia, yakni “Semangat Dialog,” Bakker menilai semangat dialog justru paling kurang terasa ketika kepercayaan mulai terkikis.
Ia menyebut erosi kepercayaan terjadi antara geopolitik dan pasar, antara tekanan jangka pendek dan prioritas jangka panjang, serta antara ambisi dan implementasi.
Bakker menyerukan kepada semua negara untuk memperkuat dialog melalui sinyal kebijakan yang lebih jelas dan berinvestasi dalam kerja sama meskipun dunia semakin kompetitif.
“Dialog yang berkelanjutan bukanlah pilihan — (melainkan) sebuah kebutuhan ekonomi,” ujarnya.
- Penulis :
- Aditya Yohan







