Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Teknologi & Sains

Kerja Sama Indonesia–Guangxi Diperkuat, Fokus pada Pendidikan Vokasi dan Pengembangan Teknologi AI

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Kerja Sama Indonesia–Guangxi Diperkuat, Fokus pada Pendidikan Vokasi dan Pengembangan Teknologi AI
Foto: (Sumber : Wakil Dubes RI Irene, Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun, Sekretaris Komite Partai Komunis China Daerah Otonomi Khusus Guangxi Chen Gang (dari kiri ke kanan) saat bertemu di KBRI Beijing, Jumat (13/3/2026). ANTARA/HO-KBRI Beijing..)

Pantau - Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing memperkuat kerja sama dengan Daerah Otonomi Khusus Guangxi di China pada bidang pendidikan dan pengembangan teknologi artificial intelligence (AI) untuk meningkatkan kapasitas teknis pendidikan vokasi yang mendukung kebutuhan industri di Indonesia.

Pertemuan kerja sama tersebut berlangsung saat Duta Besar RI untuk China dan Mongolia Djauhari Oratmangun menerima delegasi Guangxi yang dipimpin Sekretaris Komite Partai Komunis China Guangxi Chen Gang pada Jumat, 13 Maret 2026 di KBRI Beijing.

Dalam pertemuan itu Dubes Djauhari didampingi Wakil Duta Besar RI Irene.

Djauhari menyampaikan bahwa kerja sama Indonesia dan Guangxi terus menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Ia mengungkapkan bahwa pada tahun sebelumnya nilai perdagangan antara Indonesia dan Guangxi meningkat sekitar 40 persen hingga mencapai sekitar 4,73 miliar dolar Amerika Serikat.

Sejumlah perusahaan dari Guangxi juga telah menanamkan investasi di Indonesia terutama pada sektor transportasi hijau serta produksi mesin konstruksi dan alat berat.

Penguatan Kerja Sama Pendidikan dan AI

Djauhari menjelaskan bahwa pada tahun 2024 Indonesia dan Guangxi telah menandatangani kerja sama pendidikan vokasi antara berbagai universitas dan politeknik Indonesia dengan perusahaan dari Guangxi yang berinvestasi di Indonesia.

Kerja sama tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan teknis pendidikan vokasi yang selaras dengan kebutuhan industri di Indonesia.

Ia menilai Guangxi memiliki potensi besar dalam pengembangan teknologi AI yang dapat dimanfaatkan di berbagai sektor.

"Guangxi memiliki potensi besar di bidang AI yang tidak hanya dapat dimanfaatkan dalam pengembangan pertanian cerdas, tapi juga bidang kesehatan dan budaya serta pariwisata. Karena itu, ke depan, saya ingin terus mendorong penguatan kemitraan di bidang-bidang tersebut dengan Guangxi", ungkapnya.

Djauhari juga menilai posisi Guangxi sangat penting sebagai penghubung utama antara China dan kawasan ASEAN.

"Guangxi merupakan pintu gerbang utama hubungan ASEAN-China, termasuk melalui penyelenggaraan ASEAN-China Expo setiap tahun di ibu kota Guangxi, Nanning. CA Expo telah memainkan peran strategis dalam mendukung penguatan kerja sama perdagangan ASEAN-China", ujarnya.

Ia menambahkan bahwa dirinya telah beberapa kali menghadiri ASEAN-China Expo di Nanning yang dinilai membantu diversifikasi ekspor negara-negara ASEAN termasuk Indonesia ke pasar China.

Perkembangan Pesat Teknologi AI di Guangxi

Sementara itu Chen Gang menyampaikan bahwa perkembangan teknologi AI di Guangxi berlangsung sangat pesat dan telah dimanfaatkan tidak hanya di sektor industri tetapi juga sektor pertanian.

"AI telah dimanfaatkan untuk mendorong peningkatan produksi pertanian, identifikasi hama penyakit dan pemberantasan penyakit tanaman secara cepat. Pemanfaatan ini akan dapat mendukung ketahanan pangan", jelasnya.

Ia juga menyebutkan bahwa di kota Nanning telah dibangun Pusat Aplikasi AI ASEAN-China yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kerja sama teknologi AI antara China, Indonesia, dan negara-negara ASEAN.

Chen Gang menambahkan bahwa penyelenggaraan ASEAN-China Expo terus melakukan inovasi setiap tahun termasuk dengan mendorong perdagangan produk berteknologi tinggi.

"Selain menghadiri CA-Expo, saya juga ingin mengundang Duta Besar bersama Wakil Duta Besar untuk mengunjungi berbagai kawasan industri dan juga pertanian cerdas di Guangxi, sehingga kerja sama di bidang tersebut dapat terealisasikan", katanya.

Saat ini ASEAN merupakan mitra dagang terbesar bagi China dengan volume perdagangan pada tahun 2025 mencapai sekitar 1 triliun dolar Amerika Serikat.

Nilai investasi dua arah antara China dan negara-negara ASEAN juga tercatat mencapai sekitar 450 miliar dolar Amerika Serikat.

Guangxi yang berbatasan langsung dengan Vietnam menjadi salah satu pintu masuk utama dalam kerja sama perdagangan antara China dan kawasan ASEAN.

Penulis :
Aditya Yohan