Pantau Flash
Survei: Sejak Pandemi, Aktivitas Anak Main Game Komputer Berkurang
Bayi 50 Hari Asal Cirebon Positif Korona Usai Diajak Orangtua ke Hajatan
Update COVID-19 di Indonesia: Jumlah Positif 30.514, Pasien Sembuh 9.907
KSP: Pemerintah Berhati-hati dan Tetap Waspada Memasuki Era New Normal
Meutya Hafid: Kepemimpinan Penerapan New Normal Tetap di Pemerintah Sipil

Sebar Video Penembakan Selandia Baru akan Dihukum Penjara

Headline
Sebar Video Penembakan Selandia Baru akan Dihukum Penjara Brenton Harrison Tarrant jalani sidang perdana kasus penembakan brutal di dua masjid di Selandia Baru. (Foto: Reuters)

Pantau.com - Kepala Badan Sensor Selandia Baru David Shanks telah memasukkan video peristiwa itu dalam kategori konten yang "tak bisa diloloskan". Artinya, barangsiapa yang terbukti menyebarluaskan video ini di Selandia Baru kini terancam hukuman penjara dan denda.

Perusahaan telekomunikasi yang menyediakan jasa di Australia dan Selandia Baru seperti Telstra dan Vodafone menyatakan telah memblokir sejumlah webiste yang masih menyimpan konten video penembakan di Christchurch.

Sementara itu, kepolisian Selandia Baru terhambat dalam upaya mereka mendapatkan data dari sebuah website bernama Kiwi Farms. Di situs ini, muncul sejumlah postingan tentang teroris Brenton Tarrant di saat berlangsungnya kejadian.

Baca juga: Pasca Teror Selandia Baru, Masjid Indonesia di Australia Diserbu Warga

Salah satu pengelola website dilaporkan menolak bekerja sama dengan polisi Selandia Baru dan menuding mereka berupaya melakukan sensor.

"Kamu itu cuma negara kepulauan kecil yang tak relevan dan jarang diketahui, sama seperti negara-negara Pasifik lainnya," demikian jawaban administrator website itu, Joshua Moon kepada polisi, yang dikutip dari ABC News, Rabu (20/3/2019).

Dia menambahkan polisi Selandia Baru tidak punya kewenangan hukum yang bisa menjangkau setiap orang yang mempostingnya di internet.

PM Australia Scott Morrison menyatakan telah meminta secara resmi PM Jepang Shinzo Abe sebagai tuan rumah pertemuan G 20 di Osaka Juni mendatang, agar mengagendakan upaya menekan perusahaan sosial media mencegah beredarnya video semacam itu.

Baca juga: Lebih dari 1 Juta Orang Tandatangani Petisi Pemecatan Senator Anning

Sejumlah pemasang iklan di sosial media kini mempertimbangkan untuk mencabut iklan mereka jika platform sosial media tersebut masih menyebarkan video ini.

Lotto NZ bahkan telah menarik iklannya dari sejumlah platform sosial media. Bank terbesar di Selandia Baru ASB Bank sedang mempertimbangkan langkah serupa.

Asosiasi periklanan setempat meminta pemasang iklan untuk mempertimbangkan penempatan iklan mereka di platform yang masih menyebarkan video tersebut.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: