Pantau Flash
Kemendagri Klaim Berhasil Tekan Pelanggaran Prokes Pilkada Serentak
Lima Fraksi Tolak Lanjutan Proses RUU Ketahanan Keluarga
PA 212: Hasil Tes Swab Habib Rizieq Shihab Negatif COVID-19
Bahar bin Smith Tolak Diperiksa Kasus Penganiayaan Sopir Taksi Online
BPIP Gandeng Komunitas Adat Sumba untuk Wujudkan Pembudayaan Pancasila

Kekhawatiran MUI Usai Seruan Boikot Produk Perancis Lantang di Tanah Air

Kekhawatiran MUI Usai Seruan Boikot Produk Perancis Lantang di Tanah Air Wakil Ketua Umum MUI Pusat KH Muhyiddin Junaidi saat diwawancarai awak media massa di Jakarta, Selasa (3/3/2020). (Foto: Antara/Muhammad Zulfikar)

Pantau.com - Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhyiddin Junaidi meminta masyarakat tidak terprovokasi dan tetap menjaga kedamaian di Tanah Air dalam menyikapi ajakan untuk memboikot produk Perancis.

"Kepada masyarakat umat Islam dan bangsa Indonesia yang ingin menyampaikan aspirasi penolakan silakan, tapi dengan tertib, tidak boleh merusak dan harus mengikuti aturan main," kata Muhyiddin kepada wartawan, di Jakarta.

Seruan boikot Perancis terjadi di sejumlah negara di negara Arab seperti Qatar, Arab Saudi, Kuwait, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Baca juga: F-PPP Desak Menlu Gandeng OKI Soal Ucapan Macron dengan Nada Islamophobia

Bahkan, sejumlah supermarket di negara tersebut juga disebut telah menarik barang-barang asal produsen Perancis, menyusul pernyataan Presiden Perancis Emmanuel Macron soal Islam, termasuk mengumumkan rencana mereformasi Islam agar lebih sesuai dengan nilai-nilai Republik Perancis.

Merespons isu tersebut, Muhyiddin meyakini pemerintah Indonesia akan mengambil langkah-langkah diplomatis supaya tidak merugikan hubungan antara Indonesia dan Perancis.‎ "Meminta kepada Ibu Menlu agar memanggil Duta Besar Perancis untuk Indonesia supaya dia memberikan klarifikasi," katanya.

Muhyiddin mengakui MUI kecewa dengan pernyataan Macron tersebut karena tidak sepantasnya kepala negara berkomentar yang berpotensi memecah belah.

"Kami mengecam pernyataan Emmanuel Macron yang mendiskreditkan Islam," ungkapnya.

Baca juga: Mahfud MD: MACRON Harus Tahu, Agama Islam adalah Agama Rahmah

Muhyiddin mengingatkan Macron tidak hidup secara sendiri, melainkan berdampingan dengan umat Islam sehingga seharusnya bisa lebih bijak dalam bertutur kata dan tidak mendiskreditkan Islam.‎ "Harusnya Presiden Macron sadar bahwa dia hidup bersama-sama dengan umat Islam. Ini membuat kondisinya tambah kacau dan panas," pungkasnya.

Sedangkan Direktur Jaringan Moderasi Indonesia Islah Bahrawi mengatakan umat Islam seringkali latah dalam menyikapi isu-isu seperti itu sehingga akan lebih baik menganalisis terlebih dahulu sebuah permasalahan sebelum bersikap.

"Reaksi umat Islam seringkali terjadi karena latah. Ketika sebuah isu meletup dan bergesekan dengan agama, semua orang kadang segera menutup mata, tanpa pernah menganalisa kejadian sebenarnya. Inilah mengapa militansi umat Islam seringkali dijadikan alat bentur untuk pertempuran orang lain," kata Islah.

Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: