Pantau Flash
Juergen Klopp Dinobatkan Sebagai Manajer Terbaik Liga Inggris Musim Ini
PSBB Kabupaten Bogor Diperpanjang dengan 29 Ketentuan
Indonesia Abstain Atas Resolusi PBB tentang Embargo Senjata Iran
FBI Turun Tangan Selidiki Ledakan Beirut
Anggaran Kemenkes dalam RAPBN 2021 Naik Jadi Rp84,3 Triliun

Mencari 'Jalan Tikus' dari Efek Kejut Si COVID-19

Mencari 'Jalan Tikus' dari Efek Kejut Si COVID-19 Ilustrasi COVID-19. (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Durasi pandemi COVID-19 yang berkepanjangan dengan segala eksesnya menjadi bukti ketidakberdayaan komunitas global.

Ketidakberdayaan itu semakin nyata ketika komunitas global mencapai kesepakatan tak tertulis untuk mematikan sementara semua motor penggerak ekonomi. Sehingga resesi ekonomi 2020 pun menjadi konsekuensi logis yang harus diterima apa adanya.

Virus korona atau severe acute respiratory syndrome coronavirus 2 (SARS-CoV-2) nyata-nyata telah menjadi perangkap bagi semua orang dan oleh perangkap itu, manusia era modern sekarang nyaris dibuat tidak berdaya.

Ketidakberdayaan itu tercermin dari ketiadaan langkah atau kebijakan antisipatif, ketidakmampuan mengendalikan atau melokalisir wabah ini, kegagalan menghentikan proses penularan, hingga keterpaksaan memilih jalan pintas sarat risiko untuk menyelamatkan semua orang. Hanya dalam hitungan bulan dan tanpa bisa dicegah, virus ini dengan cepat menyebar ke seluruh dunia.

Baca juga: Bisnis Waralaba Diprediksi Tahun Depan Bisa Pulih di Tengah COVID-19


Pemakaman warga Rejang Lebong dengan menggunakan protokol kesehatan belum lama ini. (Foto dok.Antarabengkulu.com)

Sisi lain ketidakberdayaan itu terlihat pada ketiadaan vaksin. Ketidakberdayaan ini menyebabkan para ahli medis mencari jalan pintas dengan rekomendasi membatasi aktivitas manusia, mulai dari rekomendasi penguncian (lockdown), pembatasan sosial hingga karantina mandiri atau bekerja dan belajar dari rumah saja.

Karena ketidakberdayaan manusia pula, rekomendasi sarat risiko itu harus diterima dan dilaksanakan. Tak ada alternatif lain.

Dengan proses penularan yang mudah, virus korona menyerang sistem pernapasan. Semua orang mengenal penyakit ini dengan sebutan COVID-19 (Corona Virus Disease 2019). Bisa menginfeksi siapa saja dari semua usia, dari kelompok lanjut usia, dewasa, remaja hingga anak-anak serta bayi, bahkan juga ibu hamil dan ibu menyusui. Karena belum ada vaksin-nya, gangguan pada sistem pernapasan akibat virus ini bisa menyebabkan kematian.

Hingga Selasa (30/6) kemarin, Data Worldometers melaporkan, total pasien COVID-19 di dunia mencapai 10.402.897. Jumlah kematian tercatat 507.523 kasus. Data tentang pasien yang sembuh cukup menggembirakan dan memberi harapan. Dari total yang terinfeksi, 5.659.387 pasien dinyatakan pulih.

Di Indonesia jumlah pasien COVID-19 juga terus bertambah. Laju percepatannya yang tampak signifikan membuat semua kalangan prihatin. Karena terdeteksi 1.293 kasus baru per Selasa 30 Juni 2020, total pasien COVID-19 di dalam negeri menjadi 56.385 kasus; jumlah kematian 2.876, dan jumlah pasien sembuh 24.806. Kendati pertambahan jumlah pasien signifikan, masyarakat diharapkan tetap optimis. Kesigapan sejumlah pemerintah daerah dalam upaya memutus rantai penularan COVID-19 diharapkan dapat segera mengurangi jumlah pasien baru.

Baca juga: Gugus Tugas Klaim Persentase Positivity Rate di Indonesia Menurun


Ilustrasi COVID-19. (Foto: Pixabay)

Semakin jelas bahwa data global maupun data di dalam negeri tentang perkembangan pandemi COVID-19 itu menunjukkan ketidakberdayaan manusia melawan virus korona. Alih-alih menghentikan laju penularannya, bahkan tak ada satu pun kekuatan atau teknologi kekinian yang mampu mengendalikan wabah ini. Jangankan mereka yang awam, para ahli medis dan ahli farmasi sekalipun nyaris tak berdaya.

Akibatnya, sebagaimana sudah diketahui bersama, semua orang setiap harinya hanya bisa menyimak jumlah pertambahan kasus baru, jumlah pasien yang sembuh dan jumlah kematian. Amerika Serikat (AS), negeri adi daya dengan penguasaan teknologi kekinian yang mumpuni, bahkan menjadi negara yang tampak paling dan sangat lemah sepanjang durasi pandemi COVID-19 itu.

Bersama Brasil, AS tercatat sebagai negara dengan jumlah kasus paling banyak, dengan rata-rata pertambahan kasus baru lebih dari 35.000 per hari. Hingga Senin (29/6), worldometers.info menyebutkan total kasus COVID-19 di AS sudah mencapai jumlah 2.637.077 pasien, dengan total kematian 128.437.

AS tidak berdaya karena gagal fokus, tidak antisipatif dan gagal menahan laju percepatan penularan. Seorang anggota gugus tugas penanganan virus korona di AS bahkan membuat perkiraan bahwa pertambahan kasus baru per hari bisa mencapai angka 100.000 dalam jangka dekat, jika tidak segera dilakukan koreksi kebijakan. Uni Eropa pun sudah menetapkan larangan bagi turis asal AS masuk wilayahnya.​​​​​​​

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta

Berita Terkait: