Pantau Flash
Update COVID-19 per 5 Desember: Tambah 6.027, Kasus Positif Jadi 569.707
Pejabat Kemensos Kena OTT KPK, Diduga Terkait Dana Bansos COVID-19
PKS Putuskan Abstain di Pilkada Solo
Djoko Tjandra Dituntut 2 Tahun Bui Kasus Surat Jalan Palsu
Benny Wenda Siap Temui Jokowi: Dengan Kedudukan Setara Negara dan Negara

Mengenal Apa Itu Gangguan Psikosomatik di Tengah Pandemi COVID-19

Headline
Mengenal Apa Itu Gangguan Psikosomatik di Tengah Pandemi COVID-19 Ilustrasi seseorang terlihat mengenakan masker di tengah kekhawatiran penyebaran virus korona. (Foto: Reuters)

Pantau.com - Di tengah masifnya pandemi Coronavirus Disease 2019 (COVID-19), banyak informasi yang beredar di media maupun platform media sosial. Besarnya penyebaran informasi pandemi ini ternyata berhubungan dengan gangguan kesehatan mental.

Setiap harinya, tak sedikit masyarakat yang pada akhirnya merasakan reaksi seperti batuk, pilek, sesak dada hingga demam. Banyak yang mengira itu adalah gejala awal COVID-19, tapi ternyata itu bisa jadi bukan gejala awal, melainkan gangguan psikosomatik.

Apa itu psikosomatik? Dikutip dari laman halodoc.com, psikosomatik merupakan kondisi yang menggambarkan saat munculnya penyakit fisik yang diduga, disebabkan, atau diperparah oleh kondisi mental. Beberapa gangguan kecemasan tersebut meliputi stres dan kecemasan.

Baca juga: Seruan Ketua Aliansi Telemedis Indonesia Selama Jalani Physical Distancing

Jika dilihat dari sisi psikologi, psikosomatis atau penyakit fungsional ini adalah kondisi yang menyebabkan pengidapnya merasa sakit atau mengalami gangguan fungsi tubuh. Namun, saat dilakukan pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang lain, tak ada keanehan yang terjadi dalam tubuh.

Anggota Ikatan Psikologis Klinis & Halodoc, Emeldah mengatakan bahwa gejala psikosomatis dapat berubah-ubah tergantung psikologis seseorang. Beberapa gejala yang sering dirasakan pengidap psikosomatis ini meliputi jantung berdebar, sesak nafas, lemas, nyeri ulu hati, tidak nafsu makan, susah tidur, nyeri kepala, nyeri seluruh tubuh, demam, batuk, hingga pilek.

"Ketika ada keluhan dari sisi fisik dan psikis ketika stres, jadi suka psikosomatis, kok aku sesak nafas, padahal sesak itu karena cemas," ujar Emeldah dalam keterangannya di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, Minggu (29/30).

Baca juga: Cobain Yuk Komunikasi Pakai HUB Facebook Messenger di Tengah Pandemi Korona

Namun, ada hal yang bisa dilakukan untuk meredakan gangguan ini. Salah satunya dengan mengatur pernafasan untuk relaksasi dan membiasakan hal itu secara rutin untuk mengurangi stres.

Selain itu, buang jauh-jauh pikiran stres dengan melakukan kegiatan yang rileks, seperti menjalankan hobi dan mencoba hal baru di luar kegiatan rutin.

"Atur nafas, tarik nafas untuk relaksasi. Ini bisa membuat kita menjadi tenang. Kemudian cari aktivitas baru yang positif bersama keluarga," imbuh Emeldah, demikian dilansir dari laman BNPB.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi

Berita Terkait: