Pantau Flash
Sri Mulyani Klaim Kenaikan Cukai Rokok untuk Sebuah Keseimbangan
Jojo Terhenti di Babak Pertama China Open 2019
Donald Trump Klaim AS Capai Kesepakatan Perdagangan dengan Jepang
Setelah Presiden World Bank, Kali Ini Presiden ADB Mengundurkan Diri
Ledakan Bom Tewaskan 24 Orang Dekat Kampanye Presiden Afghanistan Ashraf

Bank Goldman: Perang Dagang AS-China Menuju Resesi Berbahaya

Bank Goldman: Perang Dagang AS-China Menuju Resesi Berbahaya Ilustrasi perang dagang AS-China. (Foto: Pixabay)

Pantau.com - Goldman Sachs Group Inc mengatakan, kekhawatiran perang dagang AS-China mengarah ke peningkatan resesi.

Goldman tidak lagi memperkirakan kesepakatan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia sebelum pemilu presiden AS 2020.

"Kami memperkirakan tarif yang menargetkan sisa USD300 miliar impor dari China akan berlaku," kata bank itu dalam catatan yang dikirim kepada para nasabahnya.

Presiden AS Donald Trump mengumumkan pada 1 Agustus bahwa pihaknya akan mengenakan tarif tambahan 10 persen pada impor China senilai USD300 miliar pada 1 September, mendorong China untuk menghentikan pembelian produk-produk pertanian AS.

Baca juga: Meski Perang Dagang Memanas, Ekonomi Domestik Indonesia Terjaga

Amerika Serikat juga menyatakan China sebagai manipulator mata uang. China menyangkal telah memanipulasi yuan untuk keuntungan kompetitif.

Perselisihan perdagangan selama setahun telah berkisar pada masalah-masalah seperti tarif, subsidi, teknologi, kekayaan intelektual dan keamanan siber, di antara lainnya.

Goldman Sachs mengatakan pihaknya menurunkan perkiraan pertumbuhan kuartal keempat AS sebesar 20 basis poin menjadi 1,8 persen karena dampak yang lebih besar dari yang diperkirakan dari perkembangan ketegangan perdagangan.

"Secara keseluruhan, kami telah meningkatkan perkiraan kami tentang dampak peningkatan perang dagang," kata bank itu dalam catatan yang ditulis oleh tiga ekonomnya, Jan Hatzius, Alec Phillips dan David Mericle.

Baca juga: BI Terapkan Kebijakan Moneter Longgar Antisipasi Perang Dagang AS-China

Meningkatnya biaya input dari gangguan rantai pasokan dapat menyebabkan perusahaan-perusahaan AS mengurangi aktivitas domestik mereka, kata catatan itu.

"Ketidakpastian kebijakan" seperti itu juga dapat membuat perusahaan-perusahaan menurunkan belanja modal mereka, tambah para ekonom.

Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta
Category
Ekonomi

Berita Terkait: