Pantau Flash
Menteri Jonan Pastikan 100 Persen Rumah Tersambung Listrik di Akhir 2020
Demo Besar Tuntut Pelaku Rasis di Tangkap, Sekolah di Sorong Diliburkan
Ahsan/Hendra Raih Gelar Juara Dunia 2019
Hasil MotoGP Inggris 2019: Alex Rins Terdepan, Marquez Kedua
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Gelombang Tinggi 3,5 Meter di Kupang

Brenton Tarrant, Penembak Brutal Christchurch Dituntut Pasal Terorisme

Brenton Tarrant, Penembak Brutal Christchurch Dituntut Pasal Terorisme Pelaku penambakan dua masjid di Christchurch, Brenton Harison Tarrant. (Foto: Reuters)

Pantau.com - Pelaku pembantaian di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru, dijatuhkan tuntutan tambahan dengan pasal terorisme. Kepolisian Selandia Baru menuntut Brenton Harrison Tarrant dengan satu dakwaan terlibat dalam aksi teroris.

Selain itu, pelaku juga dikenakan pasal berlapis, yakni satu tuntutan pembunuhan dan dua tuntutan percobaan pembunuhan juga diajukan. Tarrant kini menghadapi 92 tuntutan, yakni 51 tuntutan pembunuhan, 40 percobaan pembunuhan, dan satu tuntutan terorisme, seperti dilansir ABC News, Selasa (21/5/2019).

Pria asal Australia itu awalnya didakwa dengan satu pembunuhan. Keluarga dan korban yang selamat diberitahu tentang dakwaan baru pada pertemuan dengan polisi pada Selasa sore, 21 Mei 2019.

Baca juga: Jumlah Korban Tewas Penyerangan Masjid di Christchurch Jadi 51 Orang

"Tuntutan itu akan menuduh tindakan teroris dilakukan di Christchurch pada 15 Maret 2019 dan mengikuti konsultasi antara polisi dan ahli hukum," kata Kepolisian Selandia Baru dalam sebuah pernyataan.

Tarrant ditangkap pada hari yang sama, saat ia melakukan penembakan menyebabkan 51 orang meninggal dunia di dua masjid di Christchurch. Ia menyerbu masjid saat sholat Jumat tengah berlangsung, dengan sejumlah senjata dan menyiarkan langsung serangan itu secara online, dalam apa yang dianggap sebagai serangan teroris terburuk yang dilakukan oleh seorang Australia.

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern mengatakan, Tarrant telah memiliki lisensi senjata "kategori A", yang diperoleh pada 2017. Hal itu memungkinkannya mendapatkan senjata secara legal pada Desember 2017, dan ia tidak ada dalam daftar pantauan sebelum serangan.

Ardern menambahkan, pria Australia berusia 28 tahun itu telah tinggal di kota Dunedin sebelum serangan. Tarrant ditahan di penjara dengan keamanan maksimum di Auckland dan telah muncul di Pengadilan Tinggi Christchurch melalui tautan video.

Baca juga: Reaksi PM Selandia Baru Tak Sengaja Lihat Video Teror Christchurch

Pada kemunculannya di pengadilan 16 Maret, Tarrant tidak mengajukan permohonan jaminan atas namanya, dan ia membuat tanda kekuatan kulit putih ketika ia dibawa ke pengadilan.

Dalam sidang pengadilan berikutnya pada 5 April, Hakim Ketua, Cameron Mander, meminta pemeriksaan kesehatan mental untuk menentukan kebugaran Tarrant untuk mengajukan pembelaan.

Hakim Mander mengatakan itu adalah prosedur yang sepenuhnya normal. Tarrant sebelumnya mengatakan ia ingin mewakili dirinya sendiri, dan tidak diharuskan untuk mengajukan pembelaan.

Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi
Category
Internasional

Berita Terkait: