Forgot Password Register

Cegah Radikalisme, Menristekdikti Kumpulkan Seluruh Rektor di Indonesia

Cegah Radikalisme, Menristekdikti Kumpulkan Seluruh Rektor di Indonesia Menristekdikti Mohammad Nasir (keempat kiri) didampingi Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin (ketiga kiri),(Foto: Antara / Nova Wahyudi).

Pantau.com - Antisipasi masuknya paham radikalisme dan intoleransi di dalam kampus, Menteri Riset, Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti) Prof Mohamad Nasir mengatakan akan mengumpulkan seluruh rektor di Indonesia.

"Kami akan kumpulkan rektor seluruhnya nanti setelah Lebaran. Agendanya hanya satu, membahas bagaimana menanggulangi radikalisme dan intoleransi di dalam kampus," kata Nasir di Kampus IPB Dermaga, Bogor, Jawa Barat, Senin, 4 Juni 2018.

Ia menjelaskan, dalam pertemuan yang diagendakan tanggal 25 Juni itu nantinya akan dibahas bagaimana cara implementasinya, bagaiaman cara rektor mengendalikan, bagaimana mendelegasikan kepada dekan, dan bagaimana para pembantu rektor bidang kemahasiswaan harus bisa mengontrol semuanya.

"Ini semua yang akan kami bicarakan di pertemuan nanti," kata Nasir.

Baca juga: Kampusnya Disusupi Teroris, Rektor Universitas Riau: Kami Kecolongan!

Dalam pertemuan tersebut, lanjutnya, akan dibahas dan disampaikan sistem penanngulangannya, beserta sistem pengawasannya, nanti akan dipelajari dengan BNPT.

Terkait kasus di Universitas Riau, Nasir mengatakan, dalam hal ini dirinya telah menyerahkan persoalan tersebut kepada pihak yang berwajib, kaitannya dengan para keamanan.

"Yang terjadi adalah radikalisme, dan orang-orang itu memang melanggar ketentuan Undang-Undang yang sudah berlaku. Ya.., sudah, dari Densus ambil silahkan," kata Nasir.

Terkait pemanggilan Rektor Universitas Riau, Prof Aras Mulyadi, menurut Nasir, sudah meminta rektor untuk klarifikasi, tetapi masih ada beberapa data yang belum lengkap.

"Kami minta untuk melengkapi data yang saya minta," katanya.

Baca juga: Fadli Zon: Jangan Bunuh Teroris yang Akan Ledakkan Bom di DPR!

Nasir menambahkan, pemanggilan seluruh rektor perguruan tinggi ke Jakarta usai Idul Fitri nanti adalah sebagai langkah selanjutnya untuk mengantisipasi hal serupa terjadi.

"Kenapa habis lebaran saya panggil, karena kalau saya panggil sekarang bisa datang, enggak bisa pulang ke daerahnya. Harga tiket mahal, nanti menterinya kena masalah lagi," kata Nasir sambil tertawa.

Ketika ditanyakan, apakah pendidikan wawasan kebangsaan yang pernah digaungkan belum optimal menangkal radikalisme di kalangan kampus.

Nasir menjawab, bawah wawasan kebangsaan sudah selesai. Kegiatan tersebut dilakukan karena belum adanya aturan pelarangan HTI. Setelah aturan tersebut disahkan, pihaknya melakukan upaya lebih spesifik lagi untuk melindungi kampus.

"Berikutnya adalah larangan setelah dikeluarkannya Undang-Undang anti terorisme. Jadi harus ditingkatkan lagi," kata Nasir.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More