Pantau Flash
Intake Manifold Plastik Diketahui Meleleh, Volvo Tarik 507.353 Kendaraan
Bima Sakti Tetapkan 23 Pemain Isi Skuad Garuda Asia di Piala AFF U-15
BNPB Sebut Tujuh Provinsi Ini Terdampak Kekeringan
KPK Benarkan Pemprov Papua Belum Berhentikan ASN Terlibat Korupsi
Atletik Juara Umum ASEAN Schools Games 2019

Ditantang TKN Buka Proses Rekapitulasi Suara Pilpres, Ini Jawaban BPN

Headline
Ditantang TKN Buka Proses Rekapitulasi Suara Pilpres, Ini Jawaban BPN Ketua Tim Advokasi dan Hukum Partai Demokrat Ferdinand Hutahaen (Foto: Pantau.com/Bagaskara Isdiansyah)

Pantau.com - Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahaean angkat bicara soal Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-ma'ruf yang mengundang Badan Pemenangan nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga untuk melihat proses rekapitulasi real count (war room) kubu 01.

Ferdinand menjelaskan bahwa pihaknya memiliki konsep berbeda dengan konsep war room yang dimiliki oleh pihak TKN Jokowi-Ma'ruf. Ia menegaskan, pihak TKN jangan membayangkan format rekapitulasi data C1 seperti apa yang TKN punya.

Baca juga: TKN Jokowi Undang BPN Prabowo ke Pusat Rekapitulasi Suara Kubu 01

"Kita punya konsep berbeda terkait dengan pengumpulan suara C1 bukan seperti war room-nya TKN mungkin ya, saya juga belum tahu seperti apa war room TKN tapi saya bisa bayangkan yang pasti bahwa BPN 02 itu punya konsep tersendiri mengumpulkan C1 yang kita himpun," kata Ferdinand saat dihubungi Pantau.com, Kamis (25/4/2019).

Ferdinand mengatakan, memang awalnya BPN memiliki satu pusat tempat menampung dan melakukan rekapitulasi C1 dari lapangan yaitu di Hotel Ambara. Hanya saja, menurut Ferdinand saat ini bergeser dengan konsep bergerak secara mobile.

"Jadinya kalau TKN mau lihat war room BPN 02 ya tidak mungkin karena kita mobil bergerak dan ganti-ganti IP adress karena kita khawatir ada peretasan atau akses secara ilegal yang menghancurkan dokumen kita," ungkapnya.

Untuk itu, Ferdinand menegaskan bahwa TKN tak perlu melihat proses rekapitulasi versi BPN Prabowo-Sandi lantaran sifatnya rahasia.

"Boleh saja, tapi saya pikir tidak perlu karena itu sifatnya rahasia dan nanti ujungnya akan jadi barang bukti di MK," tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, Sekretaris TKN Jokowi-Ma'ruf Hasto Kristiyanto menyebut bahwa saat ini BPN tidak kompak menyebutkan tempat rekapitulasi data C1 internalnya. Hal itu, kata Hasto, wajar membuat masyarakat menjadi memiliki penilaian bahwa kubu paslon nomor urut 02 hanya bisa klaim kemenangan sepihak.

Untuk itu, Hasto mengundang kepada pihak BPN untuk melihat sistem rekapitulasi real count yang dilakukan oleh TKN maupun oleh internal PDIP. Begitu pun sebaliknya, pihak TKN juga nantinya akan berkunjung ke tempat rekapitulasi yang dilakukan oleh BPN.

Baca juga: Waketum PAN Dukung TKN Undang BPN Pantau 'War Room' Kubu 01

"Kami undang 5 personil, 2 dari BPN dan 3 dari pengamat politik, dan disaksikan oleh media dan perwakilan mahasiswa, untuk melihat pusat hitung suara kami. Lalu setelah itu giliran kami datang ke Pusat Hitung BPN," ungkapnya.

Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Sigit Rilo Pambudi
Reporter
Bagaskara Isdiansyah
Category
Nasional

Berita Terkait: