Forgot Password Register

Flashback: Cerita Korban Bom Bali I Temukan Kedamaian Setelah 16 tahun

Rebecca dan Phil Britten sekarang sudah menikah delapan tahun dan memiliki dua anak. (Foto: ABC Radio Perth/Gian De Poloni) Rebecca dan Phil Britten sekarang sudah menikah delapan tahun dan memiliki dua anak. (Foto: ABC Radio Perth/Gian De Poloni)

Pantau.com - Salah satu korban ledakan bom Bali 1 di tahun 2002 asal Australia Phil Britten kehilangan beberapa temannya dalam peristiwa tersebut. Selama ini dia tidak mau menceritakan apa yang dialami dan dirasakannya, namun sekarang berbagi cerita malah membawa kedamaian dalam dirinya.

Brittten masih mengingat ledakan bom Bali tanggal 12 Oktober 2002 itu seperti kejadiannya terjadi kemarin. "Bau dari ledakan itu yang paling buruk dan juga suara ledakan. Suara api juga mengerikan," seperti dikutip dari ABC News, Sabtu (13/10/2018).

Di hari itu, Britten yang ketika itu berusia 22 tahun sedang berada di Bali merayakan kemenangan tim sepakbola gaya Australia Kingsley Football Club yang menang di final di kota asalnya Perth.

Dia berada di dalam klub malam Sari Club di Kuta ketika dua ledakan terjadi - satu diledakkan oleh salah seorang pembom bunuh diri dan satu lagi dari sebuah mobil van yang berisi lebih dari seribu kg bahan peledak.

Baca juga: Inggris Bakal Legalkan Ganja Mulai 1 November Mendatang

Ledakan itu menewaskan 202 orang, dengan 88 diantaranya adalah warga Australia. "Saya kehilangan tujuh teman yang tewas. Tubuh saya mengalami luka bakar 60 persen, dan hidup saya jadi berantakan." kata Britten kepada Gillian O'Shaughnessy dari ABC Radio Perth.

"Saya kemudian seperti masuk ke dalam tempurung, menyendiri. Saya kira kita menjadi orang baru dan apa yang kita lakukan sekarang didapat dari pengalaman yang terjadi di masa lalu."

Sekarang berusia 38 tahun, Britten sudah menikah dan memiliki dua anak, dan memiliki bisnis beberapa studio seni bela diri yang berhasil di Perth.

"Ketika kita mengalami hal seperti ini membuat kita memiliki pandangan hidup yang berbeda. Sekarang saya hanya ingin berbuat yang terbaik yang bisa saya lakukan dan menciptakan kenangan bagi saya dan anak-anak. Saya ingin naik gunung, saya ingin terjun dari pesawat. Saya tidak mau menjadi orang tua yang melakukan banyak hal yang sama," papar Britten.

Britten mengakui bahwa dia pernah merasa seperti berada di tempat yang gelap selama bertahun-tahun, dan juga perjuangan panjang sebelum akhirnya dia mau berbagi cerita mengenai apa yang dialaminya.

"Sampai akhirnya ketika nenek saya menampar muka saya dan mendesak saya untuk berbagi cerita." katanya.

"Saya berbicara di hadapan 12 orang di Rotary Club dan sesuatu yang luar biasa terjadi. Ruangan berisi 12 orang tua itu kemudian berdiri dan bertepuk tangan, terasa lebih nyaring dari 1000 orang bertepuk. Saya menyadari perasaan saat itu: mungkin inilah mengapa saya selamat, mungkin mengapa saya di sini, untuk berbagi cerita bagaimana saya berhasil selamat," terangnya.

Baca juga: Ngeri, Pertunjukan Riverfire Nyaris Berujung Tragedi 9/11 WTC

Istri Phil yang sudah dinikahi selama delapan tahun Rebecca juga mengerti bagaimana perasaan trauma bisa menghancurkan sebuah kehidupan.

Di usia 16 tahun, dia mengalami kecelakaan mobil parah yang membuatnya kemudian mengalami depresi yang mendalam.

"Semua orang punya cerita- semua orang punya pengalaman pahit atau tantangan yang dihadapi - tidak ada orang yang mengalami jalan yang mudah. Saya mengalami depresi, saya menderita rasa cemas berlebihan, dan saya terjebak dalam putaran tersebut selama bertahun-tahun," ujarnya.

Dia mengatakan kunci utama bagi kesembuhan adalah sikap terbuka dan kesiapan untuk mencoba pengalaman baru. "Sebenarnya mudah kalau kita juga tidak mau melakukan apapun. Itu jalan paling gampang," kata dia.

"Tetapi kalau kita melakukan hal yang lain, manfaatnya sangat luar biasa baik sebagai manusia, di bsinis, gaya hidup dan bahkan dari sisi keuangan. Ini adalah momen yang mengubah hidup saya, namun yang lebih penting lagi adalah momen-momen sesudahnya."

Share :
Komentar :

Terkait

Read More