Pantau Flash
43 Orang Tewas Setelah Si Jago Merah Lalap Gedung 6 Lantai
Zulkifli Hasan: Jualan Surga dan Negara Sudah Tidak Laku di Pilpres
Catat! Tol Layang Japek II Tidak Ada Rest Area dan Pom Bensin
Erick Thohir Tunjuk Eks Menkeu Chatib Basri Jadi Wakomut Bank Mandiri
SEA Games 2019: Kontingen Indonesia Lampaui Target Jokowi

Gara-gara Hal Ini Netizen Keturunan China Serang PM Australia

Gara-gara Hal Ini Netizen Keturunan China Serang PM Australia PM Scott Morrison juga telah membuka akun WeChat yang menargetkan pemilih China-Australia. (Foto: AAP/Ellen Smith via ABC News)

Pantau.com - Netizen China meradang pasca Perdana Menteri Australia Scott Morrison menggambarkan Amerika Serikat sebagai "teman" sementara menyebut China sebagai "pelanggan".

Pernyataan PM Scott Morrison ini menuai kecaman pada Senin, 13 Mei 2019, ketika dia menggunakan kata-kata tersebut untuk menjelaskan keyakinannya bahwa Australia akan dapat mempertahankan hubungan dengan Beijing dan Washington di tengah ketegangan perdagangan yang berlangsung antara kedua kekuatan besar dunia tersebut.

"Anda tidak harus memihak pada situasi seperti ini. Anda tidak harus meninggalkan hubungan yang anda miliki," kata PM Scott Morrison dalam event kampanye di Sydney, seperti dilansir ABC News, Rabu (15/5/2019).

"Anda mendukung teman-temanmu dan juga mendukung pelangganmu," tambahnya.

Baca juga: Anggota DPR Muslim di Australia Diserang Lewat Selebaran Bernada Rasis

Sebagai mitra dagang terbesar, industri ekspor Australia tentu saja sangat bergantung pada China, tetapi hubungan politik antara kedua negara ini telah mengalami pasang surut sepanjang dua tahun terakhir, di mana Beijing menghadapi tuduhan atas sejumlah percobaan untuk mengintervensi politik dalam negeri Australia.

Salah satu pengguna aplikasi berbahasa Mandarin Tencent News, yang paling banyak digunakan di China, menilai bahwa Australia selalu berada di pihak Amerika.

Di sebuah forum online Australia-China, OurSteps, beberapa orang tetap mendukung PM Scott Morrison dan menilai komentarnya cukup benar dan tepat.

Politisi lain tidak sepakat


PM Scott Morrison juga telah membuka akun WeChat yang menargetkan pemilih China-Australia. (Foto: AAP/Ellen Smith via ABC News)

Sementara itu pemimpin oposisi, Bill Shorten langsung membantah komentar PM Scott Morrison tersebut dengan mengatakan, Australia dan AS adalah sekutu lama, tetapi itu tidak berarti China harus dipinggirkan.

"Saya tidak memandang China, Jepang, Korea atau Indonesia hanya sebagai pelanggan. Saya melihat mereka sebagai masyarakat yang sangat kompleks dan dinamis," kata Bill Shorten kepada wartawan di Gosford.

"Saya melihat sebuah hubungan yang jauh lebih khusus daripada memandang China hanya sebagai semacam pelanggan yang melewati layanan pesan dari kendaraan di sebuah gerai waralaba di Australia dan berkata, 'Anda ingin pesan apa?'," tambahnya.

Seperti diketahui AS telah memberlakukan tarif cukai sebesar $200 miliar pada China setelah kedua negara gagal menyepakati perjanjian perdagangan bilateral.

Mantan menteri luar negeri Australia, Julie Bishop juga tidak sependapat dengan komentar pemimpin partainya dengan mengatakan "Pandangan saya terhadap China sama sekali tidak demikian".

Baca juga: Di Negara Ini, Beli Obat Kumur Harus Pakai Kartu Identitas

"Saya kira hubungan Australia dengan China adalah hubungan yang mendalam dan saling menghormati," katanya kepada wartawan di Perth.

"Kami adalah mitra. Kami adalah mitra dagang. Kami telah bekerja bersama dalam berbagai bidang. Jadi, hubungannya itu setara," tambahnya.

Kontroversi ini muncul sehari setelah media plat merah di China, Global Times, menerbitkan editorial yang mengaitkan kekhawatiran di Australia tentang terus meluasnya pengaruh China dengan kurangnya kepercayaan pada sistem demokrasi karena lingkungan politik Australia yang tidak stabil dan respons pemerintah yang tidak efektif terhadap tantangan sosial ekonomi yang berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.

"Tidak peduli berapa banyak sudah Washington menunjukkan sikapnya yang otoriter, sebagian warga Australia sama sekali tidak khawatir tentang AS," kata Global Times.

"Tetapi jika berkaitan dengan China, mereka mulai merasa tidak nyaman ketika Beijing menunjukan pengaruhnya. Ini mencerminkan kurangnya kepercayaan diri mereka," tambahnya.

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi
Category
Internasional

Berita Terkait: