Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Geopolitik

China Peringatkan Bahaya Penggunaan AI Tanpa Batas dalam Operasi Militer AS terhadap Iran

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

China Peringatkan Bahaya Penggunaan AI Tanpa Batas dalam Operasi Militer AS terhadap Iran
Foto: (Sumber : Juru Bicara Kementerian Pertahanan China Jiang Bin (ANTARA/HO-Kementerian Pertahanan China).)

Pantau - Kementerian Pertahanan China memperingatkan bahaya penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tanpa batasan dalam operasi militer, termasuk dalam serangan Amerika Serikat terhadap Iran.

Juru Bicara Kementerian Pertahanan China Jiang Bin mengatakan penggunaan AI dalam perang berpotensi melanggar kedaulatan negara lain serta memengaruhi keputusan perang yang menyangkut hidup dan mati manusia.

Ia mengatakan, "Hal tersebut tidak hanya akan mengikis etika perang dan mekanisme tanggung jawab, tetapi juga dapat menyebabkan teknologi berada di luar kendali."

Militer Amerika Serikat sebelumnya mengonfirmasi penggunaan berbagai perangkat AI dalam operasi militernya melawan Iran.

Kepala Komando Pusat Amerika Serikat (United States Central Command atau CENTCOM) Brad Cooper menyebut teknologi AI membantu militer memproses data dalam jumlah besar yang sebelumnya membutuhkan waktu berhari-hari menjadi hitungan detik.

Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya seruan penyelidikan independen terkait pemboman sebuah sekolah di Iran selatan yang menewaskan lebih dari 170 orang, sebagian besar anak-anak.

Jiang Bin mengatakan, "Penggunaan Ai tanpa batasan untuk militer itu bahkan membuat adegan bencana dalam film Amerika 'Terminator' menjadi kenyataan."

China menegaskan bahwa penerapan kecerdasan buatan dalam bidang militer harus tetap berada di bawah kendali manusia.

Ia mengatakan, "Kami selalu berpendapat bahwa penerapan kecerdasan buatan dalam bidang militer harus tetap dipimpin oleh manusia."

Sejumlah laporan menyebut militer Amerika Serikat menggunakan sistem AI bernama Maven Smart System yang dikembangkan perusahaan teknologi Palantir.

Sistem tersebut memanfaatkan data dari satelit, pengawasan, dan intelijen untuk menghasilkan penargetan waktu nyata serta menentukan prioritas target dalam operasi militer di Iran.

Dalam sistem tersebut juga digunakan alat AI bernama Claude yang dikembangkan perusahaan Anthropic untuk menganalisis intelijen serta membantu perencanaan operasi militer.

Penggabungan teknologi tersebut disebut mampu mempercepat proses perencanaan pertempuran dari yang sebelumnya memerlukan waktu berminggu-minggu menjadi operasi waktu nyata.

China menyatakan siap bekerja sama dengan negara lain untuk mendorong tata kelola global kecerdasan buatan yang berpusat pada Perserikatan Bangsa-Bangsa guna memastikan teknologi tersebut digunakan untuk kemajuan peradaban manusia.

Penulis :
Aditya Yohan