Pantau Flash
7 Tahun Digarap, PLTA Rajamandala akan Pasok Kelistrikan Jawa-Bali
Hendra Pastikan Indonesia Open 2019 Bukan Kompetisi Terakhirnya
Harga Cabai Tembus Rp70.553 per Kg Setara Setengah Kg Daging Sapi
Persija Siap Beri Kekalahan Pertama untuk Tira Persikabo
DPR Terima Surat Pertimbangan Pemberian Amnesti Baiq Nuril

Iran yang Semakin Menderita Akibat Tekanan Amerika Serikat

Iran yang Semakin Menderita Akibat Tekanan Amerika Serikat Presiden Iran Hassan Rouhani. (Foto: Reuters/Abdullah Dhiaa Al-Deen)

Pantau.com - Presiden Hassan Rouhani mengatakan, pihaknya menderita akibat tekanan Amerika Serikat yang tak pernah terjadi sebelumnya dibandingkan dengan sanksi yang diberlakukan musuh atas Iran selama delapan tahun perang dengan Irak.

"Berdasarkan situasi saat ini, semua kekuatan revolusioner mesti bergandeng tangan dan menguatkan persatuan untuk meninggalkan situasi sulit saat ini," kata Presiden Rouhani dalam satu pertemuan yang diadakan di Teheran.

Ia membandingkan sanksi saat ini dengan yang pernah terjadi selama perang melawan Iran 1980-1988. Menurutnya, sanksi era perang hanya mengenai pembelian senjata buat Iran dan tak ada pembatasan hubungan perbankan atau ekspor-impor minyak mentah.

Baca juga: Pesan AS untuk Iran: Pentagon Kirim Rudal Patriot MIM-014 ke Timteng

Masalah itu juga akan mempengaruhi industri baja, pertanian, minyak dan petrokimia, tambah Presiden Rouhani. Di bagian lain pernyataannya, presiden Iran tersebut memuji peran mencolok rakyat di negeri itu, dan mengatakan, "Kemenangan kita terjadi karena sumbangan rakyat bagi tujuan Republik Islam."

"Hari ini, Iran menghadapi situasi sulit. Namun, kita tak boleh putus-asa," kata presiden Iran tersebut. "Saya sangat berharap bagi masa depan."

Ia juga meyakinkan bahwa negara itu akan melewati kesulitannya. Tanggal 8 Mei 2019 adalah peringatan pertama penarikan sepihak AS dari Kesepakatan Nuklir Iran, yang secara resmi dikenal dengan nama Rencana Aksi Gabungan Menyeluruh (JCPOA).

Baca juga: Selamatkan Kesepakatan Nuklir, Uni Eropa Tolak Ultimatum Iran

Melalui pidato yang disampaikan pada hari yang sama, Presiden Rouhani mengatakan bahwa kesepakatan nuklir itu baik buat perdamaian regional, sehingga, setiap orang mesti membayar untuk itu.

Presiden AS Donald Trump pada Juli 2015 keluar dari kesepakatan nuklir tersebut dan mengatakan ia akan memberlakukan sanksi ekonomi "tingkat paling tinggi" terhadap Iran. Keputusannya diambil meskipun dunia mengecam tindakan anti-Iran Washington.

Trump kembali menjatuhkan sanksi anti-Iran pada 5 November 2018. 

Share this Post:
Tim Pantau
Sumber Berita
Antara
Editor
Widji Ananta
Penulis
Widji Ananta
Category
Internasional

Berita Terkait: