Pantau Flash
Prabowo: Rencana Pemindahan Ibu Kota Sudah Digodok Gerindra Sejak 2014
Anies Pastikan Pemprov DKI Lepas Saham di Perusahaan Bir Tahun Depan
Pemindahan Ibu Kota, Sri Mulyani: Kami Tidak Masukkan ke RAPBN 2020
Dua Kali Tertinggal, Madura United Tahan Imbang Persija 2-2
Zakir Naik Dipanggil Polisi Malaysia Terkait Berita Hoax dan China

Kelompok Separatis Duduki Istana Kepresidenan dan Kamp Militer Yaman

Kelompok Separatis Duduki Istana Kepresidenan dan Kamp Militer Yaman Anggota pasukan separatis Yaman Selatan yang didukung UEA meneriakkan slogan saat mereka berpatroli di jalan selama bentrokan dengan pasukan pemerintah di Aden. (Foto: Reuters/Fawaz Salman)

Pantau.com - Kelompok separatis di Yaman Selatan telah menduduki kamp militer pemerintah dan Istana Kepresidenen di Kota Pelabuhan Aden, menurut sumber keamanan dan saksi, di tengah pertempuran berat yang telah menewaskan dan melukai banyak warga sipil.

Pemerintahan Presiden Abd Rabbo Mansour Hadi sebelumnya resmi berpindah ke Aden setelah pasukan Houthi menduduki Sana'a pada tahun 2016.

Seorang juru bicara dari Security Belt, sebuah milisi koalisi yang didukung oleh Uni Emirate Arab (UEA) mengatakan kepada AFP, Sabtu, 10 Agustus, bahwa para pejuang dari kelompok tersebut tidak menemukan perlawanan ketika hendak merebut Istana Kepresidenan Abd-Rabbu Mansour Hadi.

Baca juga: Bukti Tunjukkan UEA Pasok Senjata Militer untuk Perang Yaman dari Australia

Melansir Al Jazeera, Senin (12/8/2019), pengumuman itu datang beberapa jam usai pejabat pemerintah mengatakan bahwa para separatis juga mengendalikan semua kamp militer pemerintah di Aden, usai bentrokan yang menewaskan puluhan orang.

"Kami mengambil Istana Maashiq dari pasukan pengawal Presiden tanpa perlawanan," kata seorang juru bicara pasukan Security Belt yang didominasi separatis kepada AFP.

Kedudukan separtis di Istana Kepresidenan dan kamp militer pemerintah membuat kelompok separatis melakukan kudeta.

"Apa yang terjadi di ibukota sementara (pemerintah) di Aden oleh Dewan Transisi Selatan (STC) adalah sebuah kudeta terhadap institusi pemerintah yang diakui secara internasional," kata Kementerian Luar Negeri dalam sebuah pesan tertulis di Twitter.

Baca juga: Serangan Udara Teroris Hantam Pasar di Yaman, 14 Orang Meregang Nyawa

Pemerintah Yaman juga meminta agar Uni Emirat Arab menghentikan dukungan militer kepada STC. Hadi, yang tersapu dari kekuasaan pada 2014 ketika pemberontak Houthi menyerbu ibu kota Yaman, Sanaa, yang saat ini berbasis di ibu kota Arab Saudi, Riyadh.

Para pejuang di Aden merupakan sekutu yang dipimpin Saudi telah memerangi Houthi di Yaman Utara dan Barat sejak 2015, tetapi mereka masih berpotensi di masa mendatang. 

Sementara itu, koalisi yang dipimpin Arab Saudi menyerukan adanya gencatan senjata antara kedua pihak di Aden. Arab Saudi juga meminta agar segera digelar pertemuan darurat antara pihak-pihak yang bertikai untuk mengakhiri perselisihan.

Share this Post:
Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Kontributor - NPW
Category
Internasional

Berita Terkait: