Pantau Flash
Akibat Demo Catalan, Partai El Clasico Diundur
Mahathir Mohamad Dipastikan Hadiri Pelantikan Jokowi-Ma'ruf
Nasihati Anak Muda, Jack Ma: Kebanyakan Orang Pintar Ingin Menang
KPK Geledah Kantor Dinas PU Medan
Sainsbury Akan Stop Berjualan Kembang Api

Myanmar Siap Terima Gelombang Pertama Pemulangan Rohingya

Myanmar Siap Terima Gelombang Pertama Pemulangan Rohingya Perempuan-perempuan pengungsi Rohingya memegang plakat sebagai bagian dalam protes di kamp pengungsi Kutupalong untuk menandai peringatan satu tahun mereka dalam Cox's Bazar. (Foto: Reuters/Mohammad Ponir Hossai)

Pantau.com - Pemerintah Myanmar siap menerima lebih dari 2.000 umat Muslim Rohingya yang berada di Bangladesh pada 15 November mendatang.

Pada gelombang pertama, sebanyak 5.000 pengungsi Rohingya di Bangladesh akan kembali sesuai perjanjian kedua negara pada bulan lalu. Namun, tidak semua pengungsi bersedia dipulangkan ke rumahnya. 

Sekitar lebih dari 20 orang mengaku menolak untuk kembali ke negara bagian Rakhie utara. Bangladesh mengatakan tidak akan memaksa pengungsi untuk melaksanakan pemulangan.

PBB mengatakan, kondisi di Rakhie saat ini belum sepenuhnya aman, sebagian umat Buddha Myanmar masih memprotes pemulangan tersebut.

UNCHR mengatakan pengungsi Rohingya harus diizinkan untuk melihat kondisi di Myanmar sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali.

Baca juga: China Siap Bantu Bangladesh untuk Pemulangan Pengungsi Rohingya

"Itu tergantung pada negara lain, apakah pemulangan ini benar-benar akan terjadi atau tidak. Namun, kita harus melakukan itu," kata Menteri Kesejahteraan Sosial dan Pemukiman Sosial Myanmar Win Myat Aye, dalam konferensi pers di ibukota Yangon, Minggu (11 November 2018), seperti dilansir Anadolu, Senin (12/11/2018).

Myanmar dan Bangladesh menandatangani kesepakatan pemulangan pengungsi Rohingya pada 23 November 2017 lalu. Repatriasi rencananya diluncurkan dua bulan setelah perjanjian. Namun seiring waktu, repatriasi belum kunjung juga dilaksanakan.

Rohingya, yang digambarkan oleh PBB sebagai orang paling teraniaya di dunia, telah menghadapi sejumlah serangan sejak kekerasan komunal meletus pada 2012 dan menewaskan puluhan jiwa.

PBB mencatat adanya pemerkosaan massal, pembunuhan, termasuk bayi dan anak-anak, pemukulan brutal, dan penghilangan paksa yang dilakukan oleh personel militer.

Dalam laporannya, penyelidik PBB mengatakan bahwa pelanggaran tersebut dapat dikategorikan sebagai kejahatan kemanusiaan.

Baca juga: PBB: Terlalu Dini Untuk Kembalikan Rohingya ke Myanmar

Tim Pantau
Editor
Widji Ananta
Penulis
Noor Pratiwi
Category
Internasional

Berita Terkait: