Forgot Password Register

Pertemuan Bersejarah Duo Korea Sisakan Banyak Misteri

Pertemuan Bersejarah Duo Korea Sisakan Banyak Misteri Presiden Korut Kim Jong Un (kiri) dan Presiden Korsel Moon Jae-in. (Foto: Reuters)

Pantau.com - Korea Selatan mengatakan akan mencopot pengeras suara pengobar propaganda ke seberang perbatasan. Sementara Korea Utara akan mengubah jamnya untuk menyelaraskan waktu dengan tetangganya di selatan. 

Langkah tersebut dilakukan setelah pertemuan bersejarah pada Jumat 27 April 2018 lalu, saat Presiden Korsel Moon Jae-in dan pemimpin Korut Kim Jong-un setuju mengakhiri permusuhan dan bekerjasama serta sepakat menutup uji coba nuklir di Semanjung Korea. 

Korsel mematikan pengeras suara, yang menyiarkan campuran berita, lagu pop Korea dan kecaman terhadap penguasa Korut.

"Kami melihat itu sebagai langkah pertama paling mudah untuk membangun kepercayaan militer," kata juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel, Choi Hyun-soo, Senin (30/4/2018).

Baca juga: Tutup Uji Coba Nuklir di Semenanjung Korea, Kim Bakal Undang Pakar AS

"Kami mengharapkan penerapan oleh Korea Utara."

Pertemuan puncak berujung baik tersebut meningkatkan kepercayaan Korsel pada Korut, meski menyisakan banyak pertanyaan. Terutama apa arti "denuklirisasi" atau bagaimana itu akan tercapai.

Banyak hal-hal yang kini bergantung pada pertemuan puncak mendatang antara Kim dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang mengatakan pertemuan itu bisa terjadi selama tiga sampai empat minggu ke depan.

Baca juga: Jelang Pertemuan dengan Korut, Korsel Hentikan Siaran Propaganda

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeoe mengatakan, setiap kesepakatan dengan AS akan mengharuskan Korut menunjukkan langkah yang tidak dapat diubah untuk menghentikan program senjata nuklirnya.

Sementara itu, China mengatakan akan mengirim diplomat tinggi pemerintah, Wang Yi, untuk mengunjungi Korut pada Rabu dan Kamis pekan ini. China adalah sekutu utama Korut.

Selama akhir pekan, kepala mata-mata Korsel mengunjungi Tokyo untuk memberi penjelasan singkat kepada Perdana Menteri Shinzo Abe.

Share :
Komentar :

Terkait

Read More