
Pantau - Penurunan data inflasi Amerika Serikat (AS) menjadi katalis positif yang menguatkan nilai tukar (kurs) rupiah.
Inflasi Indeks Harga Belanja Personal atau Personal Consumption Expenditure (PCE) AS pada bulan November 2024 rilis di angka 0,1 persen month to month (MoM). Angka ini di bawah kenaikan bulan sebelumnya yang sebesar 0,3 persen.
“Core PCE Price indeks MoM bulan November di bawah kenaikan bulan sebelumnya, yakni 0,1 persen (dari sebelumnya) 0,3 persen,” ujar Pengamat pasar uang Ariston Tjendra seperti dikutip ANTARA di Jakarta, Senin (23/12/2024).
Pada pagi ini, indeks dolar AS juga menurun jadi 107,80, di bawah pergerakan Jumat (20/12) pagi yang sebesar 108,49.
Baca juga: Airlangga ‘Ngeles’ Begini Soal Rupiah yang Melemah Tajam ke Rp16.300-an
Penurunan indeks dolar AS ini terjadi setelah penurunan data indikator inflasi AS yang dirilis di Jumat (20/12) malam.
“Reaksi dolar AS terhadap hasil data inflasi AS ini bisa berdampak pada penguatan rupiah hari ini,” ungkap Ariston.
Di sisi lain, komentar negatif terhadap kebijakan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen dinilai berpotensi menurunkan daya beli masyarakat dan memberikan sentimen negatif untuk pergerakan rupiah hari ini.
“Potensi penguatan rupiah hari ini ke kisaran Rp16.100, dengan potensi resisten di kisaran Rp16.200,” tutur dia.
Baca juga: Rupiah Berdarah-darah di Rp16.314 per Dolar AS Saat BI-Rate Diteropong Turun
Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin pagi menguat 69 poin atau 0,42 persen menjadi Rp16.153 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.222 per dolar AS.
- Penulis :
- Ahmad Munjin








