
Pantau - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta pada Jumat tercatat melemah sebesar 18 poin atau sekitar 0,11 persen menjadi Rp16.923 per dolar AS dari posisi penutupan sebelumnya Rp16.905 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyatakan pelemahan kurs rupiah dipengaruhi oleh sikap wait and see pelaku pasar terhadap rilis data tenaga kerja Amerika Serikat.
"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melanjutkan pelemahan di kisaran Rp16.880-Rp16.930 dipengaruhi oleh wait and see data tenaga kerja AS," ucap Rully Nova.
Data tenaga kerja non farm payroll (NFP) Amerika Serikat diperkirakan bertambah sekitar 59 ribu.
Perkiraan tersebut lebih rendah dibandingkan data sebelumnya yang mencapai 130 ribu.
Sentimen Global Tekan Pergerakan Rupiah
Selain data tenaga kerja AS, sentimen global juga memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah.
Rully Nova menilai potensi perang terbuka yang masih berlangsung dengan Iran turut meningkatkan kekhawatiran pasar.
Risiko konflik tersebut dinilai dapat mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Kenaikan harga minyak global berpotensi mempersempit ruang fiskal pemerintah Indonesia.
Setiap kenaikan harga minyak sebesar 1 dolar AS diperkirakan dapat menambah beban subsidi sekitar Rp10 triliun.
Faktor Domestik dan Minat Investor Obligasi
Dari faktor domestik, penurunan outlook rating oleh Fitch turut menambah kekhawatiran pelaku pasar.
"Dari domestik penurunan outlook rating oleh Fitch menambah kekhawatiran pelaku pasar. Namun, minat pelaku pasar terhadap obligasi pemerintah meningkat terutama yang pendek sampai menengah sehingga menahan pelemahan rupiah lebih dalam lagi," ungkap Rully Nova.
Peningkatan minat investor terhadap obligasi pemerintah khususnya pada tenor pendek hingga menengah dinilai membantu menahan pelemahan rupiah agar tidak semakin dalam.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








