
Pantau - Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan di Jakarta, Jumat, melemah 20 poin atau 0,12 persen menjadi Rp16.925 per dolar Amerika Serikat dibandingkan posisi sebelumnya Rp16.905 per dolar AS.
Pelemahan rupiah tersebut terjadi di tengah meningkatnya kewaspadaan pelaku pasar global akibat konflik yang masih berlangsung di kawasan Asia Barat atau Timur Tengah.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa ketegangan geopolitik di kawasan tersebut masih menjadi faktor utama yang menekan pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ia menyatakan, "Pertempuran antara AS-Israel dengan Iran telah meningkat selama seminggu terakhir, dengan serangan rudal dan serangan balasan menyebar di seluruh wilayah dan meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan energi global."
Konflik Timur Tengah Dorong Harga Minyak Dunia
Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa konflik yang meningkat di kawasan tersebut turut memicu kenaikan harga minyak dunia secara signifikan.
Kenaikan harga minyak terjadi karena konflik dinilai mengancam infrastruktur energi utama serta jalur pelayaran penting di kawasan Teluk.
Lonjakan harga minyak mentah tersebut memicu kekhawatiran akan munculnya gelombang inflasi global baru yang dapat mempersulit langkah kebijakan bank sentral di berbagai negara.
Ia menjelaskan bahwa harga minyak yang lebih tinggi cenderung memicu kenaikan inflasi sehingga membuat para pembuat kebijakan menjadi lebih berhati-hati dalam mempertimbangkan penurunan suku bunga dalam waktu dekat.
Investor Menanti Data Tenaga Kerja AS
Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa perhatian investor saat ini juga tertuju pada rilis data tenaga kerja Amerika Serikat yang dinilai dapat memberikan sinyal baru terhadap arah kebijakan moneter.
Ia mengungkapkan, "Investor kini mengalihkan perhatian mereka ke laporan data pekerjaan non-pertanian AS bulan Februari yang akan dirilis hari ini nanti, yang dapat memberikan sinyal baru tentang kekuatan pasar tenaga kerja dan arah kebijakan moneter. Angka yang lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve memiliki ruang untuk menunda pemotongan suku bunga."
Sementara itu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia pada hari yang sama tercatat berada di level Rp16.919 per dolar AS.
Posisi tersebut menguat dibandingkan posisi sebelumnya yang berada pada level Rp16.886 per dolar AS.
- Penulis :
- Leon Weldrick







