Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Nasional

INDEF: Program Makan Bergizi Gratis Dapat Perkuat Daya Saing Hilirisasi Ayam Domestik

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

INDEF: Program Makan Bergizi Gratis Dapat Perkuat Daya Saing Hilirisasi Ayam Domestik
Foto: (Sumber : Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad menjawab pertanyaan dari awak media di Jakarta. (ANTARA/Aji Cakti).)

Pantau - Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat menjadi kunci penguatan daya saing hilirisasi ayam domestik di tengah rencana impor ayam dari Amerika Serikat dalam Perjanjian Perdagangan Resiprokal Indonesia–Amerika Serikat atau The Agreement on Reciprocal Trade (ART).

Tauhid Ahmad menyampaikan pernyataan tersebut dalam keterangannya di Jakarta pada Jumat.

Ia menjelaskan kebutuhan besar pasokan ayam untuk program MBG harus dipenuhi dari dalam negeri sehingga dapat menciptakan pasar khusus bagi produk ayam domestik.

Tauhid mengatakan, "Karena adanya pasokan dari dalam negeri untuk kebutuhan MBG besar, maka market-market khusus itu harus dipasok dari dalam negeri sehingga ada market khusus yang memang bisa dimasukkan dalam proyek hilirisasi ayam,".

Dorong Daya Saing Peternak Lokal

Menurut Tauhid, program pemerintah seperti MBG dapat dimanfaatkan oleh peternak ayam lokal untuk memperoleh keuntungan sekaligus meningkatkan daya saing produk mereka.

Ia menilai produk ayam domestik harus mampu bersaing di pasar dalam negeri.

Tauhid menyarankan agar pemerintah memastikan harga bahan pakan ternak ayam dapat lebih murah.

Selain itu dukungan kebijakan juga diperlukan pada sektor obat dan kesehatan peternakan serta penguatan infrastruktur industri peternakan ayam.

Tauhid mengatakan, "Menurut saya harus kompetitif di dalam negeri. Misalnya memastikan pasokan bahan makan untuk ternak ayam bisa lebih murah, didukung oleh kebijakan pemerintah, kemudian untuk obat dan kesehatan untuk peternakan ayam serta sebagainya termasuk infrastrukturnya pemerintah bisa bantu sehingga harga jual produk ayam domestik itu bisa lebih murah dibandingkan produk impor,".

Impor Ayam dalam Kerangka Perjanjian ART

Dalam perjanjian ART, Indonesia mengimpor produk ayam dari Amerika Serikat dalam bentuk live poultry untuk kebutuhan Grand Parent Stock (GPS).

Impor tersebut direncanakan sebanyak 580.000 ekor dengan nilai sekitar 17 juta hingga 20 juta dolar Amerika Serikat.

GPS dibutuhkan oleh peternak ayam dalam negeri sebagai sumber genetik utama karena hingga saat ini Indonesia belum memiliki fasilitas pembibitan GPS.

Selain itu impor bagian ayam seperti leg quarters, breasts, legs, atau thighs tidak dilarang selama memenuhi persyaratan kesehatan hewan dan keamanan pangan serta sesuai dengan kebutuhan tertentu.

Untuk kebutuhan industri makanan domestik, Indonesia juga mengimpor mechanically deboned meat (MDM).

MDM digunakan sebagai bahan baku pembuatan sosis, nugget, bakso, serta berbagai produk olahan lainnya.

Estimasi volume impor MDM mencapai sekitar 120.000 hingga 150.000 ton per tahun.

Pemerintah menyatakan tetap memprioritaskan perlindungan bagi peternak dalam negeri serta menjaga keseimbangan pasokan dan harga ayam nasional.

Pemerintah juga menegaskan tidak ada kebijakan yang mengorbankan industri peternakan ayam domestik.

Penulis :
Ahmad Yusuf
Editor :
Tria Dianti