Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Rekor Baru IHSG Tembus 7.469 Setelah Kesepakatan Dagang AS-Jepang Dorong Optimisme Pasar

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Rekor Baru IHSG Tembus 7.469 Setelah Kesepakatan Dagang AS-Jepang Dorong Optimisme Pasar
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu, 23 Juli 2025, ditutup menguat tajam dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level 7.469,23, naik sebesar 124,49 poin atau 1,69 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Dampak Kesepakatan Dagang AS-Jepang

Kenaikan IHSG dipicu oleh tercapainya kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan Jepang, yang turut mendorong penguatan indeks saham kawasan Asia.

Indeks LQ45, yang berisi 45 saham unggulan, juga mengalami penguatan sebesar 8,31 poin atau 1,06 persen ke posisi 790,44.

Tim Riset Phintraco Sekuritas menyatakan bahwa kesepakatan dagang tersebut menciptakan sentimen positif dan mendorong rebound IHSG.

"Penguatan indeks bursa kawasan Asia akibat kesepakatan dagang AS-Jepang menjadi faktor positif yang mendorong rebound IHSG," ungkap tim riset Phintraco Sekuritas.

Isi kesepakatan meliputi penetapan tarif impor dari Jepang sebesar 15 persen, penurunan tarif sektor otomotif dari 25 persen menjadi 15 persen, serta komitmen Jepang untuk berinvestasi sebesar 550 miliar dolar AS di Amerika Serikat.

Wakil Gubernur Bank of Japan (BOJ), Shinichi Uchida, menyambut baik kesepakatan tersebut dan menyatakan bahwa hal ini mengurangi ketidakpastian ekonomi Jepang.

"Kesepakatan ini mengurangi ketidakpastian ekonomi Jepang," ujarnya.

Para analis menilai kesepakatan ini memberikan ruang bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga guna menekan inflasi.

"Kesepakatan dagang mengurangi risiko bagi ekonomi Jepang yang rapuh dan memberikan ruang lebih besar bagi BOJ untuk menaikkan suku bunga," ungkap seorang analis pasar.

Namun demikian, pejabat BOJ menegaskan bahwa keputusan menaikkan suku bunga tetap menunggu konfirmasi bahwa inflasi dapat mencapai target 2 persen secara berkelanjutan.

Menyusul kesepakatan ini, Amerika Serikat juga berencana melanjutkan negosiasi dagang dengan Uni Eropa.

Langkah de-eskalasi perang dagang tersebut dinilai dapat menurunkan kecemasan terhadap inflasi di AS dan meningkatkan harapan akan kemungkinan penurunan suku bunga acuan oleh The Fed tahun ini.

Sektor-Sektor dan Saham Unggulan Pendorong IHSG

IHSG dibuka menguat dan terus bertahan di zona positif sepanjang sesi pertama dan kedua perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, sebanyak 10 sektor mengalami penguatan, dengan sektor teknologi memimpin kenaikan sebesar 7,94 persen.

Sektor properti dan industri masing-masing naik sebesar 2,33 persen dan 2,20 persen.

Sementara itu, sektor infrastruktur mengalami koreksi, masing-masing sebesar 0,11 persen dan 0,9 persen (terdapat ketidaksesuaian angka koreksi).

Saham-saham dengan penguatan harga terbesar di antaranya adalah KOKA, AMAR, IMJS, ARGO, dan IMAS.

Sedangkan saham-saham yang mencatatkan pelemahan terbesar meliputi MERI, PAMG, PANR, JATI, dan AYLS.

Frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 2.635.480 transaksi, dengan volume saham mencapai 29,70 miliar lembar dan nilai transaksi sebesar Rp15,70 triliun.

Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 366 saham mengalami kenaikan, 228 saham mengalami penurunan, dan 203 saham tidak mengalami perubahan harga.

Bursa saham regional Asia juga mencatatkan penguatan.

Nikkei melonjak 1.426,08 poin atau 3,59 persen ke level 41.201,00, Shanghai naik 0,44 poin atau 0,30 persen ke 3.582,79, Hang Seng menguat 408,04 poin atau 1,62 persen ke 25.538,22, dan Strait Times naik 23,02 poin atau 0,55 persen ke 4.231,42.

Pasar juga menantikan pertemuan European Central Bank (ECB) pada Kamis, 24 Juli 2025, yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan di level 2,15 persen di tengah potensi inflasi dan ketidakpastian tarif impor AS.

Data ekonomi dari beberapa negara utama juga dinanti pelaku pasar.

HCOB Manufacturing Flash dari Jerman untuk Juli 2025 diperkirakan naik ke 49,4 dari 49, masih dalam zona kontraksi.

Dari Inggris, S&P Global Manufacturing PMI Flash Juli 2025 diperkirakan naik ke 48 dari 47,7 bulan sebelumnya.

Sementara dari AS, S&P Global Manufacturing PMI Flash Juli 2025 diperkirakan turun ke 52,5 dari 52,9 di bulan Juni.

Penulis :
Arian Mesa
Editor :
Tria Dianti