
Pantau - Desa Les, Kecamatan Tejakula, Buleleng, Bali, menjadi percontohan nasional dalam pengembangan pariwisata hijau berbasis kearifan lokal melalui tradisi produksi garam, inovasi produk, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir.
Harmoni Alam, Budaya, dan Ekonomi Lokal
Pada pertengahan September 2025, 17 jurnalis dari Kalimantan Barat mengunjungi Desa Les dalam kegiatan capacity building bersama Bank Indonesia Kalbar, disambut oleh pengelola BUMDes Giri Segara.
Desa Les dikenal sebagai pemenang Desa Wisata Terbaik dalam ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024, berkat keberhasilannya memadukan pelestarian lingkungan, budaya, dan inovasi ekonomi rakyat.
Suasana pagi di desa ini dipenuhi suara ombak dan pemandangan tambak garam, tempat masyarakat menjemput rezeki dari laut dengan tradisi turun-temurun.
Sri Anggraini, salah satu petani garam, menyebut hasil panen garam bisa mencapai 60 kilogram per siklus saat cuaca cerah.
Garam palungan khas Desa Les diolah secara tradisional tanpa bahan kimia dan dikenal dengan cita rasa gurih serta kandungan mineral alami dari laut utara Bali.
Inovasi produk garam mencakup varian rasa rosemary, bawang putih, daun kelor, dan rasa pedas, yang telah menembus pasar internasional.
Produk lokal lainnya yang dikembangkan masyarakat meliputi gula lontar, minyak kelapa (VCO), pupuk organik, dan arak Bali, semua berbasis prinsip kemandirian berkelanjutan.
Pusat Edukasi, Inovasi Sosial, dan Ekonomi Kreatif
Desa Les menghadirkan wisata edukatif yang memperkenalkan proses pembuatan garam secara langsung kepada pengunjung.
BUMDes Giri Segara menjadi motor penggerak ekonomi lokal dengan mengelola pemasaran garam melalui sistem satu pintu, memperluas distribusi hingga ke Salatiga, Bogor, dan Jakarta.
Harga beli garam dari petani ditetapkan Rp12 ribu per kilogram dan dijual seharga Rp15 ribu per 500 gram dengan volume pemasaran sekitar 100 kg per bulan.
BUMDes juga mengelola produk lain melalui kolaborasi dengan kelompok usaha bersama (KUB) dan menjadi pusat inovasi ekonomi kreatif desa.
Kebun organik milik BUMDes digunakan untuk edukasi pertanian dan pengelolaan sampah bagi pelajar lokal maupun internasional.
Program unggulan lainnya adalah budidaya spirulina untuk peningkatan gizi dan penanggulangan stunting, yang melibatkan pelajar dalam kegiatan produksi dan edukasi.
Sejak berdiri pada 2021, BUMDes Giri Segara telah menjadi penggerak UMKM dan pariwisata edukatif yang memasarkan produk lewat koperasi dan jalur distribusi nasional.
Desa Les juga memiliki daya tarik alam seperti pantai dan air terjun Yeh Mempeh yang melengkapi kekayaan budaya dan alam Bali utara.
Setelah pandemi COVID-19, desa ini melakukan refleksi dan pemetaan ulang potensi wisata dengan konsep quality tourism berbasis keberlanjutan dan sumber daya lokal.
Aktivitas harian seperti pertanian organik, pengelolaan sampah, dan produksi arak kini menjadi atraksi wisata edukatif yang menarik minat pengunjung.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bali menyatakan bahwa Desa Les telah menciptakan ekonomi inklusif dan menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di Indonesia.
Desa Les kini diakui sebagai simbol pariwisata hijau kelas dunia, mencerminkan semangat kolektif masyarakat dalam menjaga alam dan budaya secara berkelanjutan.
- Penulis :
- Gerry Eka








