
Pantau - Indonesia dinyatakan telah mencapai swasembada beras pada tahun 2025, dengan cadangan beras nasional tertinggi dalam sejarah dan tanpa melakukan impor sepanjang tahun tersebut.
Bukti Tiga Indikator Swasembada
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menyampaikan bahwa terdapat tiga indikator utama yang menunjukkan keberhasilan swasembada beras.
Pertama, Indonesia tidak melakukan impor beras konsumsi selama tahun 2025.
Kedua, produksi beras nasional melebihi jumlah kebutuhan konsumsi masyarakat.
Ketiga, stok beras di Perum Bulog sangat tinggi, yaitu mencapai lebih dari 3 juta ton pada akhir tahun.
"Artinya tiga sisi ini yang menunjukkan kita bisa menyatakan bahwa posisi kita swasembada," ungkapnya.
Ketut menjelaskan bahwa menurut ketentuan Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), suatu negara dapat disebut swasembada meski masih mengimpor, selama volumenya di bawah 10 persen dari total kebutuhan nasional.
Namun, pada 2025 Indonesia bahkan tidak melakukan impor beras sama sekali.
"Apalagi sekarang secara tegas Bapak Presiden (Prabowo Subianto) dan Bapak Kepala Bapanas (Andi Amran Sulaiman) jelas mengatakan tidak ada impor beras konsumsi. Jadi tentu dengan ini, kalau boleh dikatakan ini arahnya sudah swasembada," ia mengungkapkan.
Menurut Ketut, visi swasembada pangan yang dicanangkan Presiden Prabowo mulai menunjukkan hasil nyata pada tahun pertama pemerintahannya.
Produksi Melampaui Kebutuhan, Stok Awal 2026 Capai 12,5 Juta Ton
Data Proyeksi Neraca Pangan Nasional Tahun 2025 yang disusun Bapanas bersama BPS, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, dan lembaga terkait menunjukkan produksi beras mencapai 34,71 juta ton.
Sementara itu, kebutuhan konsumsi hanya 31,19 juta ton, termasuk untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dengan demikian, terdapat surplus sebesar 3,52 juta ton.
"Kalau kita melihat berdasarkan data dari BPS, produksi beras kita kan lebih dari 34 juta ton di tahun 2025. Sementara kebutuhan kita kan hampir 31 juta ton. Kita punya surplus 3 juta ton. Itu saja sudah menandakan kita sudah swasembada," jelas Ketut.
Surplus tersebut berdampak langsung pada ketersediaan stok di awal tahun 2026 yang mencapai 12,529 juta ton.
Dari jumlah itu, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog tercatat sebesar 3,248 juta ton, sementara sisanya tersebar di masyarakat, pedagang, dan distributor.
"Persebarannya ada di masyarakat, ada di pedagang, ada di distributor. Dengan begitu, kita butuh selama setiap bulan itu sekitar 2,5 juta ton. Jadi dengan 12,5 juta ton tadi, kekuatan kita sudah sangat kuat untuk menjaga ketahanan pangan," ujarnya.
Ketut juga menambahkan bahwa produksi padi awal tahun 2026 akan memperkuat ketahanan pangan nasional.
"Belum lagi nanti Januari dan Februari (2026) produksi (padi). Maret dan April panen raya. Ini menandakan kita di 2026 pun akan semakin kuat," katanya.
Peringatan Terhadap Permainan Harga
Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, juga memastikan bahwa stok beras nasional sangat aman.
"Stok beras kita sangat aman. Tanpa impor, stok kita (CBP) lebih dari 3 juta ton. Itu tertinggi sepanjang sejarah. Beras kita surplus," tegas Amran.
Ia mengingatkan pelaku usaha agar tidak memainkan harga beras.
"Jadi tidak ada masalah sampai Ramadhan (2026) dan tidak boleh ada yang bermain harga. Kalau ada yang melanggar, kita tindak bersama Satgas Pangan Polri," ujarnya.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








