
Pantau - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman meninjau langsung tahap awal pemulihan sawah yang terdampak banjir dan longsor di Desa Pinto Makmur, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, pada Kamis, 13 Januari 2026 pukul 08.30 WIB.
Rehabilitasi Sawah Dipercepat dengan Skema Swakelola
Mentan memastikan proses rehabilitasi lahan, bantuan sarana produksi, dan percepatan tanam dilakukan tepat waktu agar petani dapat segera kembali berproduksi.
Ia menegaskan bahwa seluruh proses pemulihan dilakukan secara swakelola dan padat karya, tanpa melibatkan kontraktor besar, demi memastikan manfaat ekonomi langsung dirasakan oleh masyarakat terdampak.
"Jadi seluruh tim terima kasih, kami minta seluruh swakelola, kalau perlu petaninya ikut kerjakan sendiri. Dan itu dibayar pemerintah", ungkapnya.
"Jadi swakelola, jadi padat karya. Jadi ini nggak kemana-mana, nggak usah pakai kontraktor besar, apalagi kecil-kecil begini", tambahnya.
Dalam kunjungan itu, pemerintah juga menyalurkan bantuan benih dan pupuk kepada para petani.
"Dan benih-benihnya, pupuknya Alhamdulillah dibantu pemerintah", ujarnya.
Mentan didampingi Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), sejumlah anggota Komisi IV DPR, Dirut Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani, dan jajaran pejabat Kementerian Pertanian.
Ribuan Hektare Sawah dan Infrastruktur Rusak, Puluhan Ribu Hewan Ternak Hilang
Data Kementerian Pertanian mencatat luas sawah terdampak di Aceh mencapai 54.233 hektare, tersebar di 21 kabupaten/kota dengan rincian:
- Rusak ringan: 23.893 hektare
- Rusak sedang: 8.759 hektare
- Rusak berat: 21.581 hektare
Rehabilitasi tahap awal telah dimulai seluas 13.707 hektare yang tersebar di:
- Aceh: 6.530 hektare
- Sumatera Utara: 6.593 hektare
- Sumatera Barat: 3.624 hektare
Kementan menyiapkan anggaran sebesar Rp1,49 triliun dari APBN 2026 dan mengusulkan tambahan dana sebesar Rp5,1 triliun untuk percepatan pemulihan sektor pertanian di tiga provinsi terdampak bencana.
Mentan menegaskan bahwa pihaknya bergerak cepat dalam memulihkan sektor pertanian pasca-bencana hidrometeorologi, seperti banjir bandang, luapan sungai, dan longsor.
Wilayah terdampak mencakup Aceh Tamiang, Agam, Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.
Per 13 Januari 2026, total luas sawah terdampak di tiga provinsi mencapai 107.324 hektare, dengan rincian:
- Rusak ringan: 56.077 hektare
- Rusak sedang: 22.152 hektare
- Rusak berat: 29.095 hektare
Lahan yang mengalami puso (gagal panen) mencapai 44.600 hektare.
Selain sawah, lahan perkebunan non-sawit seperti kopi, kakao, dan kelapa dalam terdampak seluas 29.310 hektare, serta lahan hortikultura seluas 1.803 hektare.
Bencana juga menyebabkan lebih dari 820.000 ekor ternak mati atau hilang.
Kerusakan infrastruktur pertanian yang tercatat meliputi:
- 58 unit Rumah Potong Hewan (RPH)
- 2.300 unit alat mesin pertanian (alsintan) hilang
- 74 Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) rusak
- 3 bendungan rusak
- Jaringan irigasi rusak sepanjang 152 km
- 820 unit jalan produksi terdampak
"Tentu data dampak bencana ini bersifat dinamis dan terus kami perbarui setiap hari melalui koordinasi intensif antara unit Eselon I Kementerian Pertanian dan dinas pertanian di daerah terdampak", pungkas Mentan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








