Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah di Tengah Ekspektasi Suku Bunga Tetap

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

IHSG Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah di Tengah Ekspektasi Suku Bunga Tetap
Foto: Ilustrasi - Layar digital menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) (sumber: IDX)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan Senin (19/1) mencetak rekor tertinggi baru atau All Time High di level 9.133,87, setelah menguat 58,46 poin atau 0,64 persen.

Penguatan Ditopang Ekspektasi Suku Bunga BI dan Stabilitas Rupiah

Kenaikan IHSG sejalan dengan ekspektasi pasar bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) demi menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah yang kembali melemah ke kisaran Rp16.935 per dolar AS.

"IHSG menguat di tengah meningkatnya ekspektasi suku bunga yang tidak berubah untuk melindungi nilai Rupiah, dimana saat ini Rupiah kembali mengalami pelemahan menjadi sekitar Rp16.935," ungkap Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus.

Pelaku pasar dalam negeri menanti keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan pada Selasa (20/1) dan Rabu (21/1).

RDG BI diperkirakan akan mempertahankan BI-Rate tetap di level 4,75 persen, mempertimbangkan tren pelemahan Rupiah.

Selain itu, pelaku pasar turut mencermati rilis data pertumbuhan kredit per Desember 2025, yang diperkirakan melambat menjadi 7,6 persen year on year (yoy) dari 7,74 persen pada bulan sebelumnya.

Sektor Konsumen Non Primer Memimpin, IHSG Menguat Konsisten

IHSG dibuka menguat dan bertahan di zona hijau sepanjang sesi pertama hingga penutupan sesi kedua perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, enam sektor mencatat penguatan, dipimpin oleh sektor barang konsumen non primer yang naik 1,23 persen.

Sektor infrastruktur dan barang konsumen primer masing-masing naik sebesar 0,77 persen dan 0,58 persen.

Sementara itu, lima sektor mengalami pelemahan, dengan sektor kesehatan turun terdalam sebesar 1,02 persen.

Sektor transportasi & logistik dan sektor barang baku juga mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,94 persen dan 0,76 persen.

Indeks LQ45 turut menguat 3,69 poin atau 0,41 persen ke posisi 893,12.

Saham-saham yang mencatat penguatan terbesar antara lain ESTI, ZATA, BELL, INOV, dan ASHA.

Adapun saham yang mencatat pelemahan terbesar yaitu KIOS, TALF, CTBN, ELTY, dan BTEK.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.935.575 kali transaksi dengan volume perdagangan mencapai 85,35 miliar lembar saham dan nilai transaksi sebesar Rp35,91 triliun.

Sebanyak 377 saham mengalami kenaikan harga, 318 saham turun, dan 110 saham stagnan.

Bursa Asia Bergerak Variatif Dipengaruhi Dinamika Global

Di kawasan Asia, bursa saham mencatat pergerakan yang variatif.

Pelaku pasar global masih mencermati langkah kontroversial Presiden AS Donald Trump yang berencana menguasai Greenland dan mengancam tarif baru terhadap delapan negara Eropa.

Sementara itu, China melaporkan pertumbuhan GDP kuartal IV-2025 turun menjadi 4,5 persen dari sebelumnya 4,8 persen.

Meski begitu, secara tahunan, GDP China tetap mencapai target pertumbuhan 5 persen (yoy).

Pergerakan indeks regional tercatat sebagai berikut:

  • Indeks Nikkei Jepang melemah 352,60 poin atau 0,65 persen ke level 53.583,57.
  • Indeks Shanghai naik 12,09 poin atau 0,29 persen ke posisi 4.114,00.
  • Indeks Kuala Lumpur turun tipis 0,41 poin atau 0,02 persen ke level 1.712,33.
  • Indeks Strait Times Singapura turun 14,22 poin atau 0,29 persen ke posisi 4.834,88.
Penulis :
Arian Mesa