Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

IHSG Melemah 40,27 Poin di Tengah Stabilitas Domestik dan Meningkatnya Risiko Global

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

IHSG Melemah 40,27 Poin di Tengah Stabilitas Domestik dan Meningkatnya Risiko Global
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Layar menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (27/10/2025). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/YU/pri..)

Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu pagi, 21 Januari 2026, dibuka melemah 40,27 poin atau 0,44 persen ke level 9.094,43.

Indeks LQ45, yang mencerminkan kinerja 45 saham unggulan, juga turun 8,44 poin atau 0,95 persen ke posisi 875,94.

Pelemahan ini mencerminkan tekanan dari risiko eksternal yang meningkat, meskipun kondisi domestik relatif stabil.

Kombinasi Sentimen Domestik dan Tekanan Global

Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas menyebutkan pelemahan IHSG terjadi karena kombinasi antara stabilitas domestik dan risiko global yang semakin tinggi.

Dari sisi eksternal, beberapa faktor utama yang menekan pasar di antaranya:

  • Ancaman tarif Presiden AS Donald Trump terhadap negara-negara Eropa,
  • Tekanan di pasar obligasi global,
  • Meningkatnya volatilitas pasar saham Amerika Serikat.

Kondisi ini dinilai berpotensi menyebabkan pergerakan pasar Indonesia menjadi volatil dalam jangka pendek.

Selain itu, arus modal asing serta respons pelaku pasar terhadap keputusan Bank Indonesia juga akan menjadi penentu arah IHSG.

Pelaku pasar kini mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan hari ini, khususnya keputusan suku bunga acuan (BI-Rate).

Konsensus pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan daya tarik aset Rupiah.

Tekanan dari Ketidakpastian Global

Pasar global kembali tertekan setelah bursa saham AS dan Eropa serentak melemah pada Selasa, 20 Januari.

Penyebab utama tekanan global meliputi:

  • Retorika Trump soal Greenland dan kebijakan proteksionis,
  • Ancaman tarif 10–25 persen terhadap delapan negara anggota NATO,
  • Ancaman tarif hingga 200 persen terhadap anggur Prancis,
  • Kritik keras terhadap Inggris.

Pernyataan-pernyataan tersebut menambah lonjakan volatilitas pasar dan meningkatkan ketidakpastian global.

Bursa AS juga dibebani oleh pelemahan indeks dolar AS, aksi jual terhadap aset-aset AS, serta arus keluar dari pasar obligasi, termasuk keputusan dana pensiun Denmark yang melepas surat utang AS (U.S. Treasurys).

Investor besar seperti Ray Dalio memperingatkan risiko meningkatnya capital war atau "perang modal".

Sementara itu, Eropa mulai mempertimbangkan langkah balasan atas kebijakan tarif AS.

Pelaku pasar global pun mengalihkan dana ke aset aman seperti emas, yang kembali mencetak rekor tertinggi, serta menghadapi tekanan dari lonjakan yield obligasi tenor panjang Jepang.

  • Sinyal Pelemahan Pasar Global dan Regional

Data ketenagakerjaan AS menunjukkan perlambatan momentum perekrutan, menambah kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global.

Pergerakan pasar global pada 20 Januari menunjukkan tren negatif:

Bursa Eropa:

  • Euro Stoxx 50 turun 0,52 persen,
  • FTSE 100 Inggris turun 0,67 persen,
  • DAX Jerman turun 1,03 persen,
  • CAC Prancis turun 0,61 persen.

Bursa AS:

  • Dow Jones Industrial Average turun 0,76 persen ke 48.488,59,
  • S&P 500 turun 2,06 persen ke 6.796,94,
  • Nasdaq Composite turun 2,12 persen ke 24.987,57.

Bursa Asia pagi ini:

  • Nikkei Jepang turun 176,10 poin atau 0,33 persen ke 52.815,00,
  • Shanghai menguat 12,53 poin atau 0,32 persen ke 4.127,64,
  • Hang Seng menguat 57,99 poin atau 0,22 persen ke 26.542,11,
  • Strait Times Singapura turun 21,99 poin atau 0,46 persen ke 4.804,04.
Penulis :
Aditya Yohan