
Pantau - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa ledakan pipa gas tanam milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI) di Rokan, Riau, menyebabkan kehilangan produksi minyak sekitar 2 juta barel di awal tahun 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan Bahlil dalam rapat kerja dengan Komisi VII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (22/1/2026).
Rapat tersebut membahas capaian kinerja Kementerian ESDM tahun 2025 serta program strategis ketahanan energi nasional tahun 2026.
"Kami laporkan bahwa kami di awal tahun ini mengalami musibah kecil di Sumatera. Pipa kami bocor, sehingga potensi kehilangan (minyak) sekitar 2 juta barel di awal tahun," ungkapnya.
Bahlil menegaskan bahwa meskipun ledakan merupakan bentuk kecelakaan, insiden tersebut tetap harus dipertanggungjawabkan oleh pihak terkait.
"Saya akan langsung memberikan sanksi kepada pejabat yang ada di ESDM dan di BUMN terkait," ia mengungkapkan.
Dua Kali Ledakan dan Dampak di Lapangan
Ledakan pertama pipa gas milik PT TGI terjadi di Indragiri Hilir, Riau, pada Jumat (2/1), yang menyebabkan kebakaran hebat.
Akibat peristiwa itu, 10 orang dilaporkan terluka, sementara tiga kendaraan dan beberapa bangunan ikut terbakar.
Kepala Kepolisian Resor Indragiri Hulu (Inhu) AKBP Fahrian Saleh Siregar melaporkan bahwa ledakan kedua kembali terjadi pada Jumat (9/1) dini hari.
Ledakan kedua berlangsung di Desa Tani Makmur, Kecamatan Rengat Barat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau.
Pemulihan Bertahap dan Dampak terhadap Produksi Minyak
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Laode Sulaeman menyampaikan bahwa pemulihan aliran gas di wilayah Rokan sudah dimulai namun dilakukan secara bertahap.
"Sudah mulai mengalir dari beberapa hari yang lalu, tapi kan alirannya itu kami tambahkan secara bertahap. Tidak (langsung) maksimal, kami tahan (alirannya). Sudah dua kali meledak, jadi kami jaga (alirannya)," ungkapnya.
Penahanan aliran gas dilakukan sebagai langkah antisipatif agar insiden serupa tidak terulang kembali.
Namun, Laode menegaskan bahwa penahanan tidak akan berlangsung lama karena akan berdampak terhadap produksi minyak nasional.
Target lifting minyak pada tahun 2026 ditetapkan sebesar 610 ribu barel per hari, naik 5 ribu barel per hari dibandingkan target tahun 2025.
Untuk mencapai target tersebut, Kementerian ESDM ditugaskan menambah produksi sekitar 5 ribu hingga 6 ribu barel per hari guna menggantikan produksi yang hilang akibat ledakan pipa.
Dirjen Migas memperkirakan bahwa produksi minyak di Rokan akan kembali normal dalam beberapa hari ke depan.
- Penulis :
- Shila Glorya





