
Pantau - Pengadilan yang dikelola kelompok Houthi di Yaman pada Senin, 19 Januari 2026, menjatuhkan vonis hukuman mati terhadap sembilan warga Yaman yang dinyatakan bersalah atas tuduhan spionase untuk negara asing.
Kesembilan warga tersebut dituduh melakukan aktivitas mata-mata untuk Amerika Serikat, Israel, dan Arab Saudi, yang dianggap telah membahayakan keamanan nasional Yaman.
Televisi al-Masirah yang dikelola Houthi dan berbasis di ibu kota Sana'a melaporkan bahwa pengadilan mengonfirmasi dan menegaskan kembali vonis awal yang telah dijatuhkan terhadap para terdakwa.
Dari sembilan terdakwa, delapan orang saat ini berada dalam tahanan, sementara satu orang lainnya masih dalam status buron.
Meski dalam kasus spionase lainnya beberapa hukuman sempat dibatalkan atau dikurangi, kali ini vonis mati tetap diberlakukan sepenuhnya.
Kelompok Houthi menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil atas dasar pelanggaran berat yang mengancam keamanan wilayah yang mereka kuasai.
Mereka menyatakan bahwa proses pengadilan telah dilakukan sesuai dengan undang-undang yang berlaku di wilayah kekuasaan mereka.
Kritik Internasional dan Tudingan Bermotif Politik
Menteri Informasi Yaman, Muammar al-Eryani, mengkritik keras putusan ini dan menyebutnya sebagai langkah yang "bermotif politik."
Ia juga menuding bahwa keputusan tersebut tidak memiliki dasar hukum yang sah dan menolak pengadilan Houthi sebagai lembaga yang sah secara hukum nasional.
"Pengakuan-pengakuan dalam kasus semacam ini sering kali diperoleh di bawah tekanan dan intimidasi," ungkapnya dalam pernyataan resmi.
Namun, pihak Houthi membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa lembaga peradilan mereka beroperasi secara independen.
Vonis ini dijatuhkan di tengah meningkatnya ketegangan di Yaman sejak akhir 2023, setelah Houthi mulai menargetkan Israel serta jalur pelayaran internasional di Laut Merah.
Houthi menyatakan serangan-serangan itu merupakan bentuk dukungan terhadap rakyat Palestina di tengah konflik di Gaza.
Sebagai tanggapan, Amerika Serikat, Inggris, dan Israel melancarkan serangan udara ke sejumlah wilayah yang dikuasai Houthi, termasuk ibu kota Sana'a.
Salah satu serangan udara Israel pada Agustus lalu menewaskan belasan anggota kabinet Houthi dan kepala staf militer mereka, Mohammed Abdulkarim Al-Ghamari.
Dalam beberapa tahun terakhir, kelompok Houthi secara rutin menjatuhkan hukuman mati terhadap individu yang mereka tuduh sebagai mata-mata, terutama di wilayah yang telah mereka kuasai selama lebih dari satu dekade.
- Penulis :
- Shila Glorya







