
Pantau - Ekonom dari Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet, menilai bahwa Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) yang baru terpilih, Thomas Djiwandono, menghadapi tantangan berat dalam menjalankan tugasnya, terutama dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan membangun koordinasi kebijakan yang solid.
"Salah satu persoalan paling nyata saat ini adalah pelemahan nilai tukar rupiah", ungkap Yusuf.
Ia menjelaskan bahwa pelemahan rupiah bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal, melainkan kombinasi antara tekanan global dan persoalan struktural dalam negeri.
Kombinasi Faktor Global dan Domestik Jadi Pemicu
Yusuf menyebutkan, faktor pertama adalah meningkatnya tensi geopolitik global di awal tahun 2026 yang menimbulkan ketidakpastian dan membuat pasar keuangan bergejolak.
Faktor kedua berasal dari dalam negeri, yakni persoalan struktural yang menyebabkan keluarnya aliran modal asing dari pasar keuangan Indonesia.
Selain itu, tantangan besar lainnya bagi Thomas adalah memperkuat koordinasi antara kebijakan moneter yang dijalankan BI dan kebijakan fiskal yang diatur oleh pemerintah.
Sinkronisasi antara dua instrumen ini dinilai tidak mudah, karena meskipun saling melengkapi, keduanya bisa saling mendominasi jika tidak dikelola dengan seimbang.
"Diperlukan keseimbangan agar kebijakan fiskal dan moneter bisa berjalan harmonis, mendukung stabilitas ekonomi, serta tidak menimbulkan distorsi", jelas Yusuf.
Menurutnya, tanggung jawab Thomas tidak hanya terbatas pada pengendalian nilai tukar, melainkan juga membangun kepercayaan pasar dan memperkuat fondasi makroekonomi.
"Dengan demikian, tugas Deputi Gubernur tidak hanya berfokus pada stabilisasi nilai tukar, tetapi juga memastikan terbangunnya koordinasi kebijakan yang solid bersama Dewan Gubernur. Upaya ini menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan pasar, memperkuat fundamental ekonomi, serta menciptakan stabilitas makroekonomi yang berkelanjutan", ia menambahkan.
Thomas Djiwandono Resmi Gantikan Juda Agung di BI
Thomas Djiwandono resmi ditetapkan sebagai Deputi Gubernur BI dalam rapat internal Komisi XI DPR RI pada Senin, 27 Januari 2026.
Penunjukan ini dilakukan untuk menggantikan Juda Agung yang mengundurkan diri dari jabatannya pada 13 Januari 2026.
"Telah dilakukan kesepakatan melalui proses musyawarah mufakat dan kemudian dimasukkan dalam rapat internal di Komisi XI bahwa yang diputuskan untuk menjadi Deputi Gubernur BI pengganti Juda Agung yang mengundurkan diri adalah Thomas Djiwandono", demikian pernyataan resmi dari Komisi XI.
Thomas juga menyampaikan komitmennya untuk mendorong sinergi baru antara kebijakan fiskal dan moneter yang tidak lagi menggunakan pendekatan burden sharing, melainkan membangun koordinasi yang lebih integratif dan terarah.
Beberapa pihak berharap Thomas dapat memperkuat aspek fiskal dalam kebijakan moneter BI, sehingga kebijakan yang diambil mampu merespons dinamika ekonomi dengan lebih holistik.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah sempat mengalami penguatan tipis.
Pada pembukaan perdagangan Selasa, rupiah menguat 2 poin atau 0,01 persen menjadi Rp16.780 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.782.
Pada penutupan perdagangan Senin sore, rupiah juga menguat 38 poin atau 0,23 persen dari Rp16.820 menjadi Rp16.782 per dolar AS.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







