Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Nilai Tukar Rupiah Diprediksi Menguat, Gubernur BI Soroti Inflasi dan Ketidakpastian Global

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Nilai Tukar Rupiah Diprediksi Menguat, Gubernur BI Soroti Inflasi dan Ketidakpastian Global
Foto: Kiri ke kanan: Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Mahendra Siregar, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan Anggito Abimanyu menyampaikan hasil rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan Edisi Januari 2026 di Jakarta, Selasa 27/1/2026 (sumber: ANTARA/Uyu Septiyati Liman)

Pantau - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo optimistis bahwa nilai tukar rupiah akan menguat secara fundamental di tengah tekanan global yang bersifat teknis.

Faktor Pendukung Penguatan Rupiah

Keyakinan Perry Warjiyo didasarkan pada beberapa faktor penting seperti rendahnya inflasi, membaiknya pertumbuhan ekonomi, imbal hasil investasi yang menarik, serta komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah.

Ia menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar saat ini lebih disebabkan oleh tekanan teknis akibat ketidakpastian global.

"Tekanan inflasi (kenaikan nilai tukar) rupiah sekarang adalah faktor-faktor technical (teknis) karena ketidakpastian global yang meningkat, dan ke depan kami meyakini (nilai tukar rupiah) akan menguat secara fundamental", ungkapnya.

Menurut Perry, tekanan terhadap rupiah bersifat jangka pendek dan tidak mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional.

Salah satu faktor penyebabnya adalah inflasi yang bersumber dari kenaikan harga pangan atau volatile food.

Kenaikan harga tersebut dipicu oleh cuaca ekstrem dan bencana alam yang menghambat distribusi pangan ke berbagai wilayah.

"Inflasi (ekonomi) yang meningkat sekarang adalah bukan inflasi fundamental. Inflasi fundamental itu inflasi inti. Inflasi yang sekarang meningkat karena memang faktor-faktor jangka pendek karena berhubungan dengan kenaikan harga pangan", jelasnya.

Perry menyampaikan bahwa inflasi inti masih terjaga di level rendah, yakni sebesar 2,38 persen year-on-year (yoy).

Angka tersebut berada di bawah titik tengah sasaran inflasi nasional sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Ia menambahkan bahwa rendahnya inflasi inti mencerminkan kapasitas ekonomi nasional yang masih lebih besar dibandingkan realisasi pertumbuhan.

Pada triwulan III tahun 2025, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sebesar 5,04 persen yoy.

"Bank Indonesia memperkirakan bahwa kapasitas produksi nasional kita itu untuk 2 tahun ke depan antara 5,8 sampai 6,2 persen. Nah, dengan pertumbuhan yang masih di bawah 5,8 sampai 6,2 persen itu menunjukkan kenapa inflasi inti kita rendah", ujarnya.

Langkah BI dalam Menjaga Stabilitas

Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan (BI-Rate) sebanyak lima kali sejak September 2024 untuk menjaga stabilitas nilai tukar, inflasi, dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Saat ini, BI-Rate berada di level 4,75 persen.

BI juga masih membuka kemungkinan untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut jika diperlukan.

Di pasar valuta asing, Bank Indonesia terus melakukan intervensi di berbagai instrumen seperti pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri, pasar tunai (spot), dan pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dalam negeri.

Terkait pengendalian inflasi pangan, BI memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pangan (TPIP).

" Dengan demikian, kebijakan fiskal dan moneter tetap bisa menjaga stabilitas dan terus mendorong pertumbuhan ekonomi", ia mengungkapkan.

Penulis :
Leon Weldrick