
Pantau - Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Kamis di Jakarta melemah 30 poin atau 0,18 persen ke level Rp16.752 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.722 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyampaikan rupiah berpotensi menguat seiring isu intervensi pemerintah Amerika Serikat terhadap independensi Federal Reserve.
"Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat di kisaran Rp16.700-Rp16.750 dipengaruhi oleh global berlanjutnya tren pelemahan index dollar dan keputusan The Fed untuk menahan bunga acuan 3,5 persen sesuai prediksi. Independensi The Fed masih terus membayangi dan menimbulkan ketidakpastian," ungkap Rully.
Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen.
Ketua Federal Reserve Jerome Powell menyatakan bank sentral akan mempertimbangkan penurunan suku bunga setelah harga-harga menunjukkan penurunan.
Federal Reserve juga menghadapi tekanan karena Gubernur Federal Reserve Lisa Cook dijadwalkan menjalani sidang pada bulan ini.
Sidang tersebut terkait tuduhan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menilai Lisa Cook melakukan penipuan hipotek.
Jerome Powell menegaskan bahwa independensi bank sentral merupakan elemen penting dalam demokrasi modern.
Independensi bank sentral dinilai berfungsi sebagai penghalang terhadap politisasi kebijakan moneter.
Pernyataan Powell tersebut muncul di tengah kritik berulang Donald Trump terhadap manajemen Federal Reserve.
Kritik Trump mencakup pandangan mengenai kepemimpinan Federal Reserve dan keyakinan bahwa presiden perlu dikonsultasikan dalam penentuan suku bunga.
Dari sisi domestik, penguatan rupiah diperkirakan akan berlangsung terbatas.
Penguatan rupiah tertahan oleh arus dana keluar dari pasar modal.
Arus dana keluar tersebut dipicu oleh penurunan peringkat investasi Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International.
Dari domestik, penguatan rupiah dinilai terbatas akibat keluarnya dana asing di pasar modal seiring penurunan peringkat investment Indonesia oleh MSCI Morgan Stanley Capital International.
- Penulis :
- Aditya Yohan







