Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

PMI Manufaktur Indonesia Naik Jadi 52,6, Tunjukkan Ketahanan Ekonomi di Tengah Tantangan Global

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

PMI Manufaktur Indonesia Naik Jadi 52,6, Tunjukkan Ketahanan Ekonomi di Tengah Tantangan Global
Foto: Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu memberikan pemaparan dalam “Economic Outlook: Tahun 2026, Tahun Ekspansi” di Jakarta, Rabu 5/11/2025 (sumber: ANTARA/Imamatul Silfia)

Pantau - Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 52,6 pada Januari 2026, meningkat dari 51,2 pada bulan sebelumnya.

Kementerian Keuangan menyatakan bahwa kenaikan ini menjadi sinyal optimis bagi perekonomian nasional sekaligus menegaskan ketahanan dan daya saing eksternal Indonesia di tengah tantangan domestik maupun global.

"Perkembangan ini menjadi sinyal optimis, sekaligus menegaskan ketahanan serta daya saing eksternal Indonesia di tengah berbagai tantangan domestik maupun global," kata Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu.

Didukung Permintaan Domestik dan Optimisme Pelaku Usaha

Peningkatan PMI didorong oleh meningkatnya permintaan domestik serta kenaikan output produksi di sektor manufaktur.

Meskipun terdapat gangguan rantai pasok global dan pelemahan pada pesanan ekspor, fundamental industri nasional dinilai tetap kuat.

Optimisme pelaku usaha tercatat mencapai level tertinggi dalam sepuluh bulan terakhir, yang menjadi indikasi positif terhadap keberlanjutan ekspansi ekonomi nasional.

Kenaikan optimisme ini juga dipicu oleh perbaikan permintaan eksternal, yang tercermin dari kinerja sektor manufaktur di negara mitra dagang utama.

PMI manufaktur India pada Januari 2026 tercatat sebesar 56,8, sementara PMI Amerika Serikat tetap di zona ekspansi dengan angka 51,9.

Secara regional, PMI manufaktur ASEAN berada pada level 52,8, didorong oleh pertumbuhan di Filipina (52,9) dan Vietnam (52,5).

"Pemerintah akan terus memperkuat iklim usaha dan mendorong daya saing industri melalui berbagai langkah, termasuk percepatan penyelesaian hambatan usaha (debottlenecking) guna memperkuat iklim investasi," ujar Febrio.

Kinerja Ekonomi Domestik dan Kontribusi Manufaktur pada Ekspor

Indikator ekonomi domestik turut mendukung penguatan sektor manufaktur, salah satunya terlihat dari pertumbuhan Indeks Penjualan Riil (IPR) sebesar 4,4 persen year-on-year (yoy), terutama dipicu oleh penjualan makanan dan minuman serta meningkatnya mobilitas masyarakat.

Aktivitas konsumsi menunjukkan perbaikan, tercermin dari peningkatan penjualan kendaraan bermotor pada akhir 2025.

Penjualan sepeda motor meningkat sebesar 14,5 persen (yoy), sedangkan penjualan mobil tumbuh 17,9 persen (yoy).

Selain itu, penjualan listrik pada akhir 2025 mengalami kenaikan sebesar 4,8 persen, dengan pertumbuhan tertinggi berasal dari konsumsi listrik segmen bisnis.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Desember 2025 juga tetap berada di zona optimis, yakni sebesar 123,5.

Sektor manufaktur turut memberikan kontribusi positif terhadap ekspor nasional, dengan nilai ekspor Indonesia pada Desember 2025 meningkat 11,64 persen (yoy).

Ekspor nonmigas tumbuh sebesar 13,72 persen (yoy), sementara ekspor industri pengolahan naik signifikan sebesar 19,26 persen (yoy).

Impor Indonesia pada bulan yang sama tercatat sebesar 23,83 miliar dolar AS, naik 10,81 persen (yoy).

Namun demikian, neraca perdagangan Indonesia pada Desember 2025 tetap surplus sebesar 2,51 miliar dolar AS.

Secara kumulatif, neraca perdagangan sepanjang Januari hingga Desember 2025 mencatatkan surplus sebesar 41,05 miliar dolar AS.

Tren surplus ini telah berlangsung secara konsisten sejak Mei 2020.

Penulis :
Arian Mesa