Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Pemerintah Pastikan Tekanan Inflasi Hanya Bersifat Sementara, Normalisasi Diprediksi Terjadi pada Maret 2026

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

Pemerintah Pastikan Tekanan Inflasi Hanya Bersifat Sementara, Normalisasi Diprediksi Terjadi pada Maret 2026
Foto: Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu menjawab pertanyaan wartawan dalam wawancara cegat di kantor Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Jakarta, Rabu 24/9/2025 (sumber: ANTARA/Imamatul Silfia)

Pantau - Kementerian Keuangan memastikan bahwa tekanan inflasi yang terjadi pada awal tahun 2026 hanya bersifat sementara dan diperkirakan akan kembali normal pada bulan Maret mendatang.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat inflasi Januari 2026 tercatat sebesar 3,55 persen secara year-on-year (yoy), sedikit lebih tinggi dari target inflasi Bank Indonesia yang sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

"Meskipun sedikit di atas sasaran, tekanan inflasi ini bersifat temporer dan akan mengalami normalisasi pada Maret mendatang," ungkap perwakilan Kementerian Keuangan.

Kenaikan Inflasi Dipengaruhi Efek Diskon Listrik Tahun Lalu

Inflasi Januari 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan Desember 2025 yang sebesar 2,92 persen (yoy).

Kementerian Keuangan menjelaskan bahwa kenaikan inflasi terutama disebabkan oleh rendahnya basis pada awal tahun lalu akibat adanya kebijakan diskon listrik.

Kondisi ini berdampak signifikan pada komponen inflasi harga yang diatur pemerintah (administered price), yang melonjak dari 1,93 persen (yoy) menjadi 9,71 persen (yoy).

Namun demikian, secara bulanan (month-to-month), justru terjadi deflasi sebesar -0,15 persen yang dipicu oleh penurunan harga sejumlah bahan pangan.

Penurunan harga terjadi pada komoditas seperti aneka cabai, bawang, daging ayam ras, telur ayam, dan aneka sayuran.

Hal ini menyebabkan inflasi harga bergejolak (volatile food) turun tajam menjadi 1,14 persen (yoy), dari sebelumnya 6,21 persen (yoy).

"Pemerintah berkomitmen menjaga inflasi tetap terkendali pada sasaran, khususnya inflasi pangan pada kisaran 3–5 persen di tengah tantangan cuaca melalui penguatan pasokan dan kelancaran distribusi," tegas Kementerian Keuangan.

Pemerintah Waspadai Dinamika Global dan Perkuat Strategi Ekonomi

Inflasi inti pada Januari 2026 juga tercatat meningkat menjadi 2,45 persen (yoy).

Kenaikan inflasi inti ini terutama didorong oleh lonjakan harga emas yang tumbuh sekitar 76,5 persen (yoy).

"Pemerintah akan terus mencermati dinamika global dan dampaknya terhadap kinerja perekonomian nasional," ujar perwakilan kementerian.

Sebagai langkah antisipasi, pemerintah akan terus memperkuat hilirisasi sumber daya alam, daya saing produk ekspor, dan diversifikasi mitra dagang utama melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional.

Selain itu, daya beli masyarakat terus dijaga melalui stimulus seperti diskon transportasi dan bantuan pangan.

"Pemerintah juga berkomitmen untuk mempercepat pemulihan daerah yang terdampak bencana. Koordinasi pusat dan daerah diperkuat untuk menjaga ekspektasi inflasi masyarakat," ia menambahkan.

Penulis :
Arian Mesa