
Pantau - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia ditutup melemah tajam pada akhir perdagangan Senin, 2 Februari 2026, seiring tekanan dari pasar saham kawasan Asia dan sentimen negatif global.
IHSG turun 406,88 poin atau 4,88 persen ke posisi 7.922,73.
Penurunan juga terjadi pada indeks LQ45, yang terdiri dari 45 saham unggulan, yakni turun 27,29 poin atau 3,27 persen ke level 806,24.
Sentimen negatif berasal dari koreksi harga komoditas global, yang biasanya menopang penguatan IHSG, ungkap analis pasar.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim menjelaskan bahwa pasar masih mencermati hasil pertemuan antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan MSCI.
Pertemuan tersebut bertujuan untuk mengembalikan kepercayaan investor global dan membahas reformasi transparansi di pasar modal Indonesia.
Tekanan Global dan Data Domestik Pengaruhi IHSG
Tekanan terhadap IHSG diperparah oleh pelemahan mayoritas indeks saham Asia, di tengah perhatian pasar terhadap peningkatan aktivitas pabrik di China menjelang Tahun Baru Imlek.
Dari sisi global, pasar tertekan akibat kekhawatiran pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed, potensi gelembung di sektor Artificial Intelligence (AI), serta aksi jual besar-besaran pada komoditas emas dan perak.
Aksi jual logam mulia terjadi sejak Jumat (30 Januari) dan berlanjut pada Senin (2 Februari), dipicu oleh penguatan Dolar AS dan aksi ambil untung oleh investor.
Di sisi lain, data makro ekonomi dalam negeri menunjukkan beberapa indikator positif.
Indeks PMI Manufacturing Indonesia naik ke level 52,6 pada Januari 2026 dari 51,2 di bulan sebelumnya, menandakan ekspansi aktivitas pabrik selama enam bulan berturut-turut.
Surplus neraca perdagangan tercatat sebesar 2,52 miliar dolar AS pada Desember 2025, naik dari 2,24 miliar dolar AS pada periode yang sama tahun sebelumnya, didorong oleh pertumbuhan ekspor sebesar 11,64 persen year-on-year.
Namun demikian, inflasi tahunan naik menjadi 3,55 persen pada Januari 2026, meskipun terjadi deflasi 0,15 persen secara bulanan.
Semua Sektor Merah, Volume Perdagangan Capai 50 Miliar Saham
IHSG dibuka dalam kondisi melemah dan terus berada di zona negatif hingga penutupan sesi pertama.
Pada sesi kedua, indeks tetap berada di zona merah hingga akhir perdagangan.
Seluruh sektor dalam indeks sektoral IDX-IC mengalami penurunan.
Sektor barang baku mencatatkan pelemahan terdalam sebesar 10,60 persen, disusul sektor barang non-konsumen dan sektor energi yang masing-masing turun 7,89 persen.
Saham yang mencatatkan penguatan tertinggi adalah INTD, SOHO, SWID, EDGE, dan NICK.
Sementara saham yang mengalami pelemahan terbesar adalah CUAN, MBMA, ENRG, GTSI, dan MDKA.
Total frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.949.040 kali transaksi.
Volume saham yang diperdagangkan mencapai 50,41 miliar lembar dengan nilai transaksi sebesar Rp29,17 triliun.
Sebanyak 58 saham tercatat naik, sementara 720 saham turun, dan 36 saham stagnan.
Pada hari yang sama, indeks saham utama Asia juga mencatatkan pelemahan.
Nikkei Jepang turun 667,70 poin atau 1,25 persen ke posisi 52.655,19.
Hang Seng Hong Kong melemah 611,53 poin atau 2,23 persen ke level 26.775,57.
Shanghai Composite China melemah 102,20 poin atau 2,48 persen ke posisi 4.015,75.
Straits Times Singapura turun 12,85 poin atau 0,26 persen ke posisi 4.892,27.
- Penulis :
- Arian Mesa








