Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Pengembangan Kopi dan Kakao Sumatera Didorong untuk Mitigasi Bencana dan Penguatan Ekonomi Rakyat

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Pengembangan Kopi dan Kakao Sumatera Didorong untuk Mitigasi Bencana dan Penguatan Ekonomi Rakyat
Foto: (Sumber: Ilustrasi. Petani memanen kopi robusta di perkebunan Desa Sidoharjo, Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (22/8/2025). (ANTARA FOTO/ANIS EFIZUDIN).)

Pantau - Program penanaman kopi dan kakao di dataran tinggi Sumatera dinilai memiliki keterkaitan erat dengan pertimbangan ekologi serta upaya mitigasi bencana, sekaligus menjadi strategi penguatan ekonomi rakyat di kawasan pegunungan.

Kawasan dataran tinggi Sumatera sejak lama dikenal dunia melalui komoditas perkebunannya, terutama kopi dan kakao yang tumbuh di lereng Pegunungan Bukit Barisan.

Di Aceh, kopi Gayo telah dikenal secara global sebagai salah satu kopi arabika terbaik di dunia.

Sumatera Utara juga memiliki kopi Mandailing yang menyimpan nilai historis dan reputasi tinggi di pasar internasional.

Selain kopi, Sumatera merupakan pulau penghasil kakao terbesar kedua di Indonesia setelah Sulawesi.

Wilayah Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat memiliki hamparan kebun kopi dan kakao rakyat yang menjadi sumber mata pencaharian ribuan petani kecil.

Sejak era kolonial, kopi dan kakao telah menjadi bagian penting dari sejarah agraria Indonesia.

Meski memiliki potensi ekspor besar, produktivitas kopi dan kakao Sumatera masih tertinggal dibandingkan negara produsen lain seperti Vietnam.

Banyak kebun rakyat masih didominasi pohon tua dengan pola perawatan tradisional sehingga hasil produksi per hektare belum optimal.

Kondisi struktural tersebut menjadi sasaran utama berbagai program pemerintah di sektor perkebunan.

Pemerintah mendorong hilirisasi perkebunan untuk meningkatkan nilai tambah kopi dan kakao nasional.

Program tersebut mencakup peremajaan tanaman, penyediaan bibit unggul, serta peningkatan keterampilan petani.

Pemerintah menunjukkan keseriusan menghidupkan kembali kejayaan kopi dan kakao Sumatera dengan memposisikannya sebagai komoditas unggulan nasional.

Presiden Prabowo menetapkan kopi dan kakao sebagai bagian dari sepuluh komoditas unggulan Indonesia.

Target kebijakan tersebut adalah menjadikan Indonesia sebagai salah satu produsen kopi dan kakao teratas dunia.

Menteri Pertanian menindaklanjuti arahan Presiden dengan program penyediaan benih kopi dan kakao gratis.

Benih unggul tersebut disalurkan kepada petani di seluruh Indonesia dan mencakup ratusan ribu hektare lahan perkebunan rakyat.

Petani di wilayah Gayo, Lintong, Solok, hingga Pesisir Selatan dipastikan memperoleh akses bibit unggul tanpa biaya.

Kebijakan ini bertujuan mendorong swasembada bahan baku kopi dan kakao nasional.

Program pengembangan kopi dan kakao tersebut juga diharapkan mampu membuka sekitar 1,6 juta lapangan kerja baru di wilayah pedesaan.

Dampak ekonomi dari kebijakan ini ditargetkan mulai dirasakan dalam beberapa tahun ke depan.

Penulis :
Aditya Yohan
Editor :
Tria Dianti