Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Antara Bau Nyale dan MotoGP: Menakar Masa Depan Budaya dan Pariwisata Mandalika

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Antara Bau Nyale dan MotoGP: Menakar Masa Depan Budaya dan Pariwisata Mandalika
Foto: (Sumber: Warga saat Bau Nyale di Pantai Seger KEK Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah Provinsi NTB di Lombok Tengah, Minggu (8/2/2026). ANTARA/Akhyar Rosidi..)

Pantau - Ribuan warga dan wisatawan memadati Pantai Seger, Lombok Tengah, pada dini hari saat langit masih gelap untuk mengikuti tradisi Bau Nyale, menangkap nyale yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika.

Bau Nyale: Napas Budaya di Tengah Gema Mesin Balap

Cahaya senter menari di antara ombak kecil, diiringi tawa dan doa dalam perayaan yang telah berlangsung turun-temurun di kalangan masyarakat Sasak.

Tradisi Bau Nyale bukan sekadar menangkap cacing laut, tapi juga simbol penghormatan terhadap kisah pengorbanan Putri Mandalika yang melekat kuat dalam identitas budaya lokal.

Perayaan tahun 2026 ini menjadi lebih dari sekadar pesta rakyat.

Ia hadir sebagai bagian dari lanskap pariwisata berkelanjutan, menyatu dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika bersama hiruk-pikuk Sirkuit Pertamina Mandalika yang menjadi tuan rumah MotoGP hingga tahun 2031.

Di tengah pembangunan fisik dan industri olahraga, Bau Nyale tetap menjadi denyut budaya yang otentik.

Rangkaian acara tak hanya sebatas menangkap nyale, tetapi juga mencakup pemilihan Puteri Mandalika, Karnaval Seribu Putri, hingga pertunjukan seni tradisional yang memperkuat ekspresi budaya masyarakat Lombok Tengah.

Budaya yang Menghidupi, Bukan Sekadar Tontonan

Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri menekankan pentingnya menjadikan Pantai Seger sebagai milik masyarakat.

"Bau Nyale bukan hanya atraksi tahunan, tetapi identitas masyarakat Lombok Tengah. Kami ingin memastikan bahwa pengembangan KEK Mandalika tetap memberi ruang utama bagi budaya lokal. Jika tradisi ini kuat, maka ekonomi masyarakat juga akan ikut kuat," ungkapnya.

Pernyataan ini menggarisbawahi urgensi menjaga keseimbangan antara pengembangan infrastruktur dan keberlanjutan sosial-budaya.

Ia menyebut bahwa puncak kegiatan Bau Nyale secara nyata mampu mendongkrak okupansi hotel di Mandalika dan sekitarnya.

Dampaknya terasa langsung bagi pelaku UMKM seperti pedagang kuliner, penyewa tikar, dan perajin cenderamata yang mengalami peningkatan pendapatan selama perayaan.

Tradisi terbukti mampu menjadi penggerak ekonomi riil masyarakat.

Namun, tantangan ke depan adalah memastikan bahwa potensi ekonomi ini tidak bersifat musiman semata.

Bau Nyale harus dikemas sebagai agenda wisata tahunan yang terkurasi, terjadwal, dan terintegrasi dalam kalender nasional tanpa mereduksi nilai budayanya.

Transformasi tradisi perlu diarahkan agar tidak menjadikannya sekadar tontonan, tetapi tetap hidup sebagai ekspresi budaya masyarakat Sasak yang relevan di tengah perubahan zaman.

Penulis :
Ahmad Yusuf