
Pantau - Ekonom Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai kerja sama perdagangan Indonesia dan Amerika Serikat berpotensi meningkatkan ekspor industri nasional hingga sekitar 15 persen seiring terbukanya akses pasar dan negosiasi tarif resiprokal kedua negara.
Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan BRIN Ragimun menyatakan perjanjian tersebut memberikan kemudahan akses pasar bagi ekspor Indonesia ke Amerika Serikat sehingga membuka peluang peningkatan perdagangan bilateral yang perlu dimanfaatkan secara optimal oleh pelaku industri dalam negeri.
"Yang jelas peningkatan perdagangan akan meningkat, dan Indonesia harus memaksimalkan kesempatan perdagangan tersebut melalui upaya opsi-opsi, produk-produk alternatif lainnya," ungkapnya saat dihubungi di Jakarta, Rabu.
Ia menjelaskan sektor yang berpotensi mencatat kenaikan ekspor masih didominasi industri tekstil dan produk tekstil, alas kaki, peralatan rumah tangga, minyak kelapa sawit atau CPO, barang elektronika dan telekomunikasi, serta produk karet.
Peningkatan ekspor untuk produk-produk tersebut diperkirakan dapat mencapai kisaran 15 persen seiring meningkatnya aktivitas perdagangan kedua negara.
Pertemuan Prabowo dan Trump Bahas Tarif Resiprokal
Kerja sama perdagangan itu dibahas Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam pertemuan di Washington DC yang berlangsung selama 30 menit dengan fokus pada isu negosiasi tarif timbal balik atau resiprokal.
"Kita bahas masalah perdagangan di antara kedua negara," ujar Prabowo saat memberikan keterangan pers di Washington DC, Amerika Serikat, Sabtu pagi waktu setempat.
Indonesia akan mendapatkan Tarif Resiprokal 0 persen untuk produk unggulan ekspor seperti minyak kelapa sawit, kopi, kakao, dan komoditas lainnya.
Pengecualian tarif diberlakukan terhadap 1.819 produk Indonesia yang terdiri dari 1.695 produk industri dan 124 produk pertanian dengan skema most favoured nation atau MFN.
Untuk produk tekstil Indonesia, Amerika Serikat menyiapkan pengurangan tarif hingga 0 persen melalui mekanisme tariff-rate quota atau TRQ.
Kerja sama tersebut juga mencakup peningkatan investasi melalui kemudahan berusaha dan masuknya investasi di bidang teknologi tinggi untuk sektor ICT, alat kesehatan, dan farmasi melalui penyesuaian kebijakan tingkat komponen dalam negeri dan deregulasi kebijakan.
Indonesia menegaskan komitmen penerapan Strategic Trade Management guna menciptakan ekosistem bisnis yang aman serta menjamin barang berteknologi tinggi tidak disalahgunakan.
Tantangan Sektor Energi dan Transisi Bersih
Di sisi lain, perjanjian tersebut membawa konsekuensi bagi sektor energi nasional karena selain membuka akses ekspor, kesepakatan itu menuntut komitmen impor produk khususnya dari sektor energi Amerika Serikat.
Kondisi ini mencerminkan pergeseran strategis yang mengutamakan ketahanan pasokan minyak dan gas di tengah upaya mempertahankan kemitraan energi bersih.
Terdapat kekhawatiran terhadap target transisi energi bersih Indonesia apabila terjadi peningkatan impor bahan bakar fosil dari Amerika Serikat yang berpotensi menambah ketergantungan energi.
Meski demikian, peluang peningkatan ekspor industri tetap dinilai sebagai sisi positif yang harus dimaksimalkan pemerintah dan pelaku usaha melalui diversifikasi produk dan penguatan daya saing di pasar global.
Kemudahan perizinan impor dan standardisasi produk pertanian asal Amerika Serikat diharapkan mendukung efisiensi bahan baku dan kelancaran produksi dalam rangka memperkuat ketahanan pangan nasional.
Indonesia juga berkomitmen membuka peluang investasi dengan pembatasan kepemilikan asing yang lebih longgar bagi perusahaan Amerika Serikat di sektor tertentu termasuk divestasi pertambangan dan sektor keuangan.
- Penulis :
- Shila Glorya








