
Pantau - Pemerintah menggelontorkan insentif Ramadan dan Lebaran sebesar Rp12,8 triliun untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah kenaikan kebutuhan musiman.
Anggota Komisi XI DPR RI Anis Byarwati menilai kebijakan tersebut sebagai langkah strategis karena Ramadan dan Lebaran merupakan momentum ekonomi yang mendorong lonjakan konsumsi dan perputaran uang di daerah.
Ia mengungkapkan, "Ramadan dan Lebaran itu bukan hanya momentum ibadah, tapi juga momentum ekonomi. Setiap tahun perputaran uang meningkat, konsumsi naik, dan daerah-daerah ikut bergerak. Jadi wajar kalau pemerintah hadir dengan mengeluarkan insentif Rp12,8 triliun untuk bantuan pangan dan transportasi."
Anis menyatakan dukungan terhadap kebijakan yang meringankan beban masyarakat, khususnya di tengah tekanan harga pangan.
Ia menegaskan fungsi pengawasan DPR tetap diperlukan dengan menyampaikan, "Kami mendukung langkah yang meringankan beban rakyat. Tapi kami juga akan memastikan pelaksanaannya benar-benar efektif dan tidak sekadar menjadi kebijakan musiman tanpa evaluasi."
Ia menyoroti pentingnya ketepatan sasaran bantuan sosial terutama terkait validitas data dan distribusi di lapangan.
Menurutnya, "Yang paling penting adalah data dan distribusinya. Jangan sampai yang seharusnya menerima malah terlewat, dan yang tidak berhak justru mendapat bantuan. Kuncinya bukan di niat baik, tapi di kualitas eksekusi."
Dari sisi ekonomi, stimulus Ramadan dinilai berpotensi mendorong konsumsi jangka pendek karena berkurangnya beban belanja pangan memberi ruang bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan lain.
Ia menyatakan, "Untuk jangka pendek, sangat mungkin meningkatkan daya beli. Tapi kita juga harus jujur, dampaknya sifatnya sementara. Daya beli yang kuat tetap harus ditopang oleh lapangan kerja dan pendapatan yang stabil."
Terkait target pertumbuhan ekonomi 6 persen, Anis menilai kebijakan ini sebagai faktor pendukung dan bukan penentu utama.
Ia menegaskan, "Kalau ditanya apakah kebijakan ini bisa membantu target 6 persen? Saya melihatnya sebagai penopang, bukan penentu utama. Stimulus Ramadan ini ibarat vitamin, bukan fondasi. Pertumbuhan ekonomi yang kuat tetap membutuhkan investasi, ekspor, dan kepastian usaha."
Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan insentif tersebut mencakup diskon tarif berbagai moda transportasi serta bantuan sosial berupa beras dan minyak goreng.
Dalam setahun terakhir pemerintah konsisten menghadirkan stimulus fiskal pada momen hari libur panjang dan Hari Keagamaan Besar Nasional termasuk pada periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Tria Dianti








