
Pantau - Kementerian Perdagangan menyatakan peningkatan kinerja ekspor Indonesia pada Januari 2026 terutama didorong oleh sektor industri pengolahan yang mencatat nilai ekspor sebesar 18,51 miliar dolar AS.
Nilai tersebut meningkat dibandingkan Januari 2025 yang tercatat sebesar 17,11 miliar dolar AS.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan kontribusi industri pengolahan terhadap total ekspor Indonesia pada Januari 2026 mencapai 83,53 persen.
Produk industri pengolahan yang mengalami pertumbuhan meliputi produk olahan minyak sawit, nikel, besi dan baja, semikonduktor, serta kendaraan bermotor.
Produk olahan timah mencatatkan pertumbuhan tertinggi hingga 191 persen pada periode tersebut.
Pertumbuhan ekspor timah dipengaruhi oleh kebijakan larangan ekspor bijih timah yang mendorong peningkatan ekspor produk olahan.
Budi Santoso mengatakan, "Tiga komoditas nonmigas utama dengan kenaikan ekspor tertinggi pada Januari 2026 adalah timah dan barang daripadanya yang naik hingga 191,38 persen, lemak dan minyak hewani atau nabati naik 46,05 persen, serta nikel dan barang daripadanya naik 42,04 persen (YoY). Hal ini didorong oleh peningkatan harga ketiga komoditas tersebut di pasar internasional,".
Harga Komoditas Global Dorong Kenaikan Ekspor
Kenaikan ekspor komoditas tersebut juga dipengaruhi oleh peningkatan harga di pasar internasional.
Berdasarkan World Bank Commodity Price Data, harga timah pada Januari 2026 naik 67,29 persen dibandingkan Januari 2025.
Harga nikel pada periode yang sama meningkat 15,42 persen.
Harga minyak kernel kelapa sawit atau palm kernel oil juga naik 8,36 persen dibandingkan Januari 2025.
Selain industri pengolahan, kinerja ekspor awal tahun juga ditopang sektor pertambangan dan lainnya yang berkontribusi sebesar 10,48 persen terhadap total ekspor.
Sektor minyak bumi dan gas memberikan kontribusi sebesar 4,03 persen terhadap ekspor nasional.
Sektor pertanian berkontribusi sebesar 1,97 persen terhadap total ekspor secara tahunan.
Namun secara tahunan, ekspor sektor pertanian mengalami penurunan sebesar 20,36 persen.
Ekspor sektor pertambangan dan lainnya juga tercatat turun sebesar 14,59 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Tiongkok Masih Jadi Tujuan Utama Ekspor Indonesia
Dari sisi tujuan ekspor, Tiongkok menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia dengan nilai mencapai 5,27 miliar dolar AS.
Amerika Serikat menempati posisi kedua dengan nilai ekspor sebesar 2,51 miliar dolar AS.
India menjadi pasar utama berikutnya dengan nilai ekspor sebesar 1,52 miliar dolar AS.
Total ekspor nonmigas Indonesia ke tiga negara tersebut mencapai 9,30 miliar dolar AS.
Nilai tersebut setara dengan 43,77 persen dari total ekspor nonmigas Indonesia pada Januari 2026.
Negara tujuan ekspor nonmigas dengan pertumbuhan tertinggi adalah Spanyol dengan kenaikan sebesar 74,65 persen.
Mesir mencatat pertumbuhan ekspor sebesar 59,23 persen secara tahunan.
Pakistan mencatat kenaikan ekspor sebesar 55,62 persen secara tahunan.
Berdasarkan kawasan, ekspor ke Asia Tengah lainnya tumbuh sebesar 112,88 persen.
Ekspor ke Afrika Utara meningkat sebesar 36,10 persen.
Ekspor ke Asia Selatan naik sebesar 26,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada Januari 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS.
Surplus tersebut ditopang oleh surplus sektor nonmigas sebesar 3,23 miliar dolar AS.
Sementara itu sektor migas mengalami defisit sebesar 2,27 miliar dolar AS.
Total ekspor Indonesia pada Januari 2026 tercatat sebesar 22,16 miliar dolar AS.
Nilai ekspor tersebut meningkat sebesar 3,39 persen dibandingkan Januari 2025.
Kenaikan ekspor terutama didorong oleh pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 4,38 persen secara tahunan.
Nilai ekspor nonmigas meningkat menjadi 21,26 miliar dolar AS dari sebelumnya 20,37 miliar dolar AS pada Januari 2025.
Total impor Indonesia pada Januari 2026 tercatat sebesar 21,20 miliar dolar AS.
Nilai impor tersebut meningkat sebesar 18,21 persen dibandingkan Januari 2025 yang sebesar 17,94 miliar dolar AS.
- Penulis :
- Shila Glorya








