Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Target Defisit Anggaran China 2026 Capai 4 Persen PDB, Pemerintah Siapkan Obligasi dan Belanja Besar

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Target Defisit Anggaran China 2026 Capai 4 Persen PDB, Pemerintah Siapkan Obligasi dan Belanja Besar
Foto: (Sumber : Suasana Balai Agung Rakyat, Beijing, Kamis (5/3/2026) saat sidang "Dua Sesi". (ANTARA/Desca Lidya Natalia))

Pantau - Pemerintah China menetapkan target defisit anggaran sebesar 4 persen terhadap Produk Domestik Bruto pada tahun 2026 dengan nilai mencapai 5,89 triliun RMB atau sekitar Rp14,43 kuadriliun.

Kebijakan tersebut disampaikan Perdana Menteri China Li Qiang dalam pembukaan Sidang Kongres Rakyat Nasional China di Balai Agung Rakyat, Beijing pada Kamis 5 Maret 2026.

Li Qiang mengatakan "Defisit terhadap Produk Domestik Bruto pada tahun ini diproyeksikan sebesar 4 persen menjadi 5,89 triliun RMB (sekitar Rp14,43 kuadriliun) atau meningkat 230 miliar RMB (sekitar Rp563,5 triliun) dibandingkan tahun 2025,".

Target defisit tersebut sama dengan target defisit yang ditetapkan pemerintah pada tahun 2025.

Pemerintah China akan mendukung defisit tersebut melalui penerbitan obligasi pemerintah khusus jangka panjang senilai 1,3 triliun RMB.

Dana dari obligasi tersebut akan digunakan untuk mendukung strategi nasional utama.

Dana tersebut juga akan dipakai untuk proyek pembangunan kapasitas keamanan di berbagai bidang penting.

Pemerintah juga akan menggunakan dana tersebut untuk program peningkatan peralatan serta program tukar tambah barang konsumsi.

Selain itu pemerintah akan menerbitkan obligasi pemerintah khusus senilai 300 miliar RMB untuk mendukung bank-bank komersial milik negara berskala besar.

Dana tersebut ditujukan untuk memperkuat permodalan bank-bank tersebut.

Penerbitan Obligasi dan Penguatan Investasi

Pada tahun 2026 pemerintah daerah di China juga akan menerbitkan obligasi tujuan khusus senilai 4,4 triliun RMB.

Li Qiang menyampaikan "Kami akan meningkatkan pengelolaan proyek yang didanai oleh obligasi tersebut melalui mekanisme 'daftar negatif', serta menyempurnakan uji coba penerbitan obligasi secara cepat setelah melalui peninjauan dan persetujuan di tingkat provinsi,".

Sebagian besar dana dari obligasi tersebut akan diarahkan untuk proyek investasi.

Dana tersebut juga akan dimasukkan dalam kategori pengelolaan khusus untuk mendukung proyek-proyek besar.

Dana tersebut juga akan digunakan untuk menggantikan utang tersembunyi atau hidden debt.

Selain itu dana akan digunakan untuk melunasi pembayaran tertunggak pemerintah.

Pemerintah pusat juga mengalokasikan 755 miliar RMB atau sekitar Rp1,85 kuadriliun untuk investasi dalam anggaran tahun ini.

Selain itu terdapat dana sebesar 800 miliar RMB atau sekitar Rp1,96 kuadriliun dari obligasi pemerintah khusus ultra jangka panjang.

Dana tersebut bertujuan mendorong investasi yang lebih besar dari sektor swasta.

Li Qiang mengatakan "Untuk menghidupkan kembali investasi swasta, kami akan melaksanakan kebijakan dan langkah-langkah promosi yang relevan. Kami juga akan menyempurnakan mekanisme jangka panjang untuk memfasilitasi partisipasi perusahaan swasta dalam proyek-proyek besar dan mendorong investasi swasta di bidang-bidang baru seperti teknologi tinggi dan layanan modern,".

Belanja Pemerintah Pusat Naik 5,5 Persen

Belanja pemerintah China pada tahun 2026 tetap berada pada skala besar untuk mendorong konsumsi masyarakat dan meningkatkan standar hidup warga.

Belanja pemerintah pusat pada 2026 diproyeksikan meningkat 5,5 persen menjadi 4,542 triliun RMB atau sekitar Rp11,13 kuadriliun.

Belanja urusan diplomatik mencapai 70,975 miliar RMB atau sekitar Rp173,89 triliun atau meningkat 9,3 persen.

Belanja pertahanan mencapai 1,9 triliun RMB atau sekitar Rp4,655 kuadriliun atau meningkat 7 persen.

Belanja keamanan publik mencapai 258,269 miliar RMB atau sekitar Rp632,76 triliun atau meningkat 5,9 persen.

Belanja pendidikan mencapai 192,476 miliar RMB atau sekitar Rp471,57 triliun atau meningkat 5 persen.

Belanja ilmu pengetahuan dan teknologi mencapai 426,42 miliar RMB atau sekitar Rp1,04 kuadriliun atau meningkat 10 persen.

Belanja cadangan pangan, minyak makan, dan material lain mencapai 110,684 miliar RMB atau sekitar Rp271,18 triliun atau meningkat 8,1 persen.

Pembayaran bunga utang mencapai 873,99 miliar RMB atau sekitar Rp2,14 kuadriliun atau meningkat 6,7 persen.

Pemerintah pusat juga akan mentransfer dana kepada pemerintah daerah sebesar 10,415 triliun RMB atau sekitar Rp25,52 kuadriliun.

Nilai transfer tersebut meningkat 2,2 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Pemerintah pusat juga mengalokasikan dana cadangan sebesar 50 miliar RMB atau sekitar Rp122,5 triliun yang nilainya sama seperti pada tahun 2025.

Li Qiang menyampaikan "Kami akan memastikan bahwa pemerintah daerah memiliki lebih banyak sumber daya fiskal yang dapat digunakan dan memiliki kapasitas koordinasi yang lebih baik, sehingga pada tingkat dasar kebutuhan hidup masyarakat terpenuhi, gaji dapat dibayarkan, dan pemerintahan dapat berfungsi secara normal,".

Pemerintah Tekankan Disiplin Fiskal dan Stabilitas RMB

Pemerintah di semua tingkat diminta lebih berhati-hati dalam mengelola sumber daya keuangan.

Pemerintah juga diminta membangun mekanisme yang sehat untuk meningkatkan pendapatan dan mengurangi pengeluaran.

Pemerintah diminta memanfaatkan secara optimal sumber daya dan aset yang ada.

Li Qiang mengatakan "Kita harus memperkuat disiplin keuangan dan ekonomi, memperketat batasan anggaran, secara ketat mengendalikan pengeluaran umum, dan terus melakukan penghematan. Setiap sen yang berhasil dihemat harus digunakan untuk menyelesaikan masalah pembangunan yang mendesak dan memenuhi kebutuhan mendesak masyarakat. Kami akan terus menerapkan kebijakan moneter yang bersifat akomodatif,".

Pemerintah juga akan mengatur aktivitas bisnis di pasar kredit.

Pemerintah akan menurunkan biaya perantara pembiayaan untuk menekan biaya pembiayaan secara keseluruhan.

Nilai tukar RMB akan dijaga tetap stabil pada tingkat yang adaptif dan seimbang.

Penulis :
Aditya Yohan