Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Ekonomi

Indonesia Targetkan Jadi Pusat Produksi Furnitur Global Lewat Hilirisasi Kayu dan Penguatan Industri Manufaktur

Oleh Leon Weldrick
SHARE   :

Indonesia Targetkan Jadi Pusat Produksi Furnitur Global Lewat Hilirisasi Kayu dan Penguatan Industri Manufaktur
Foto: Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika meninjau produk yang ditampilkan pada Indonesia International Furniture Expo (IFEX) 2026, Tangerang, Banten, Kamis 5/3/2026 (sumber: Kemenperin)

Pantau - Kementerian Perindustrian menargetkan Indonesia menjadi hub produksi manufaktur furnitur global melalui penguatan hilirisasi kayu berkelanjutan serta peningkatan daya saing industri nasional.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan industri furnitur merupakan model hilirisasi kayu yang krusial karena bersifat padat karya dan mampu menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

"Sektor ini juga menyerap ratusan ribu tenaga kerja dan terhubung langsung dengan pasar global yang nilainya mencapai lebih dari 736,21 miliar dolar AS. Dalam lima tahun ke depan, Indonesia diproyeksikan tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga mampu memimpin dalam aspek desain dan keberlanjutan," katanya.

Industri furnitur dinilai memiliki peran penting karena mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar serta mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai daerah di Indonesia.

Kinerja Industri Manufaktur Melampaui Pertumbuhan Ekonomi

Kinerja sektor industri pengolahan tercatat melampaui pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun 2025.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pertumbuhan industri pengolahan pada 2025 mencapai 5,30 persen.

Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,11 persen pada tahun yang sama.

Capaian tersebut menjadi momentum bersejarah karena pertumbuhan industri kembali berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional setelah 14 tahun.

Terakhir kali pertumbuhan industri melampaui pertumbuhan ekonomi nasional terjadi pada tahun 2011.

Kontribusi industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto nasional pada 2025 tercatat sebesar 19,07 persen.

Secara global, nilai Manufacturing Value Added Indonesia mencapai 265,07 miliar dolar AS.

Capaian tersebut menempatkan Indonesia pada peringkat ke-13 dunia dalam sektor manufaktur.

Indonesia juga menempati posisi pertama di kawasan ASEAN dalam nilai Manufacturing Value Added.

Tantangan Ekspor dan Upaya Penguatan Industri Furnitur

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika menyatakan industri furnitur merupakan sektor manufaktur strategis yang menjadi pilar hilirisasi berbasis sumber daya alam.

"Kami berkomitmen mendorong transformasi industri furnitur tidak hanya sekadar produsen namun juga menjadi pusat manufaktur global yang berbasis desain dan keberlanjutan," kata Putu.

Pernyataan tersebut disampaikan saat membuka Indonesia International Furniture Expo 2026 di Tangerang, Banten pada Kamis 5 Maret 2026.

Meskipun memiliki potensi besar, industri furnitur nasional masih menghadapi sejumlah tantangan.

Salah satu tantangan adalah penurunan ekspor furnitur sebesar 3 persen pada tahun 2025.

Nilai ekspor furnitur Indonesia pada 2025 tercatat sebesar 1,85 miliar dolar AS.

Pada saat yang sama, impor furnitur mengalami kenaikan sebesar 6 persen.

Nilai impor furnitur Indonesia mencapai 0,82 miliar dolar AS pada tahun 2025.

Tantangan lain berasal dari kondisi geopolitik global yang memengaruhi sistem logistik internasional.

Selain itu, regulasi lingkungan internasional juga menjadi tantangan bagi industri furnitur nasional.

Salah satu regulasi tersebut adalah European Union Deforestation Regulation yang menuntut kesiapan sertifikasi bagi produk berbasis kayu.

Indonesia dinilai memiliki modal kuat untuk menghadapi tantangan tersebut melalui Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian.

Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian memastikan produk furnitur Indonesia tetap bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Untuk meningkatkan produktivitas industri, Kementerian Perindustrian menjalankan Program Restrukturisasi Mesin atau Peralatan Industri Pengolahan Kayu.

Program tersebut bertujuan meningkatkan efisiensi dan daya saing industri furnitur nasional.

Hingga saat ini program tersebut telah memfasilitasi 35 perusahaan industri pengolahan kayu.

Total nilai reimbursement yang telah diberikan melalui program tersebut mencapai Rp26,1 miliar.

Program restrukturisasi tersebut terbukti meningkatkan efisiensi produksi sebesar 10,70 persen.

Program tersebut juga meningkatkan mutu produk sebesar 36,28 persen.

Selain itu, produktivitas industri meningkat hingga 32,65 persen setelah mengikuti program tersebut.

Penulis :
Leon Weldrick